Dosen UHO Kendari Latih Guru dan Siswa Cara Mitigasi Bencana
Dosen Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari melatih guru dan siswa cara melakukan mitigasi bencana.
Kegiatan ini adalah bagian dari Program Kemitraan Masyarakat Internal (PKMI) UHO Kendari yang digelar di SDN 90 dan SDN 66 Kota Kendari.
Adapun Tim PKMI UHO merupakan dosen yang berasal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo yang terdiri dari: Dr. Syawal Kamiluddin Saptaputra, S.KM.,M.Sc (Ketua), Syefira Salsabila, S.Gz., MKM (Anggota), dan Akifah, S,KM.,M.P.H. (Anggota).
Dr Syawal Kamiluddin Saptaputra menyatakan, gempa bumi merupakan fenomena alam yang terjadi cukup sering di Nusantara.
Statistik menunjukkan bahwa dalam dekade terakhir (2009-2019), telah tercatat sebanyak 216 gempa yang terjadi. Akibat dari peristiwa tersebut, data mencatat sekitar 637 orang meninggal dan hilang, 8.687 orang mengalami luka-luka, dan sekitar 459.855 jiwa terpaksa mengungsi. Selain itu, 602.223 unit rumah warga dan 131 fasilitas umum rusak akibat gempa.
“Fakta ini memperkuat klaim bahwa Indonesia memang memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana gempa bumi,” katanya dalam rilisnya.
Tragisnya, lanjut dia, banyak korban dari kejadian bencana ini adalah anak-anak usia sekolah, baik yang berada di sekolah maupun di luar jam sekolah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan tentang bencana dan pengurangan risiko bencana diberikan sejak dini.
“Tujuannya adalah untuk membekali mereka dengan pengetahuan, kesiapan, dan langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi ancaman bencana. Ini sangat krusial untuk meminimalisir dampak dan mengurangi risiko,” jelasnya.
Melihat pentingnya edukasi bencana, tambah dia, anak-anak usia sekolah diidentifikasi sebagai agen perubahan yang dapat diutamakan dalam pendidikan risiko bencana. Anak-anak di sekolah harus dilatih dan diberi pengetahuan agar selalu siap dan siaga menghadapi potensi ancaman bencana yang bisa terjadi kapan saja di sekitar mereka.
Iklan oleh Google

“Pendidikan ini tidak hanya penting untuk keselamatan mereka sendiri, tetapi juga penting untuk keselamatan komunitas di sekitarnya,” tambahnya.
Kesehatan dan Keselamatan di lingkungan sekolah, kata dia, merupakan suatu program untuk menciptakan lingkungan sekolah yang sehat, aman, dan bebas dari ancaman bencana.
Kegiatan ini bertujuan untuk melindungi guru dan siswa dari potensi bahaya yang mungkin terjadi saat bencana, cara mengenali tanda-tanda dan situasi yang berpotensi menimbulkan bahaya, serta tindakan antisipasi dan evakuasi bila terjadi bencana.
“Ini sangat penting agar proses belajar-mengajar dapat berlangsung dengan aman dan nyaman, meskipun di tengah situasi yang tidak menentu,” ujarnya.
Untuk itu, kata dia, Universitas Halu Oleo, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan sekolah melalui Program Kemitraan Masyarakat Internal (PKMI-UHO).
“Dalam konteks ini, universitas telah memberikan pelatihan khusus kepada sekolah yang berada di kawasan rawan bencana mengenai pentingnya mitigasi bencana,” jelasnya.
Proses kegiatan edukasi ini dimulai dengan pembukaan, setelah itu sambutan, melaksanakan pre tes dan pemberian kuis ke guru dan siswa, dan dilanjutkan dengan sesi pemutaran video mitigas bencana saat kebakaran pada siswa dan pemaparan materi mitigasi bencana kebakaran pada guru.
Selanjutnya, diadakan roleplay pemadaman kebakaran menggunakan selimut api dan alat pemadaman api ringan (APAR).
“Kegiatan ini disimulasikan pada guru-guru di sekolah. Peserta sangat antusias dengan adanya program PKMI ini, karena banyak ilmu yang di peroleh setelah mengikuti kegiatan,” pungkasnya. (yat)
