Take a fresh look at your lifestyle.
UHO Kendari

Puluhan Warga Laporkan Dugaan Pertalite Oplosan ke Polda Sultra, LBH HAMI Minta Uji Lab Independen

77

Puluhan warga Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, resmi melaporkan dugaan kasus Pertalite oplosan ke Polda Sultra pada Jumat 7 Maret 2025.

Didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI) Sulawesi Tenggara, mereka mengadukan kerusakan kendaraan yang terjadi setelah mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kota tersebut.

Ketua LBH HAMI Sultra, Andre Darmawan, mengungkapkan laporan telah diterima oleh Polda Sultra.

“Kami membawa aduan masyarakat dengan bukti-bukti, termasuk sampel BBM dari kendaraan yang mengalami kerusakan. Saat ini ada enam orang yang tengah memberikan keterangan,” katanya saat ditemui di Polda Sultra.

Lebih lanjut, Andre menyampaikan bahwa laporan yang masuk ke LBH HAMI tidak hanya dilakukan secara langsung, tetapi juga melalui pengaduan online. Hingga hari ini, pihaknya telah menerima sekitar 80 laporan dari masyarakat yang mengalami masalah serupa.

Mayoritas korban mengaku mengisi BBM pada tanggal 3 dan 4 Maret, lalu mengalami kendala seperti motor mogok dan mesin tersendat hanya dalam hitungan jam setelah pengisian.

Andre menegaskan bahwa sebagian besar laporan mengarah pada beberapa SPBU di Kota Kendari, termasuk SPBU di Kota Lama, Tipulu, Andonohu, Wulele, THR, dan beberapa lokasi lainnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta CCTV SPBU diperiksa agar bisa memastikan apakah ada indikasi kelalaian atau tindakan curang dalam distribusi BBM.

“Kami ingin agar rekaman CCTV SPBU diperiksa sebelum hilang atau sengaja dihapus. Jika benar ada kecurangan, ini harus diungkap tuntas,” tegasnya.

Iklan oleh Google

LBH HAMI juga menyoroti proses uji lab yang dilakukan oleh Pertamina. Menurut Andre, jika pengujian hanya dilakukan oleh pihak yang diduga terlibat, maka hasilnya dikhawatirkan tidak objektif.

“Kami meminta sampel BBM yang diambil dari kendaraan mogok ini diuji di laboratorium independen yang kredibel. Tidak bisa pihak yang diduga bertanggung jawab malah menguji dirinya sendiri,” imbuhnya.

Salah satu korban, Indra Lesmana Samad yang baru saja membeli motor, menceritakan pengalaman buruknya.

Ia mengisi Pertalite senilai Rp50.000 di salah satu SPBU di Kendari pada pagi hari tanggal 4 Maret. Namun, di tengah perjalanan, motornya tiba-tiba mogok dan tidak bisa dinyalakan.

“Motor saya masih baru, baru dua hari keluar dari dealer. Setelah isi Pertalite, tiba-tiba mogok dan jalannya tersendat. Saya bawa ke bengkel, mekanik bilang BBM-nya berbau aneh, seperti campuran thinner atau zat lain,” tuturnya.

Setelah tangki dikuras dan diisi ulang dengan Pertamax, motornya kembali normal. Kerugian yang dialami pun mencapai ratusan ribu rupiah untuk perbaikan.

LBH HAMI Sultra membuka kemungkinan untuk melakukan gugatan class action jika terbukti ada kelalaian dari pihak SPBU atau Pertamina.

“Jika hasil investigasi menunjukkan bahwa BBM yang didistribusikan memang tercemar atau dioplos, maka masyarakat yang dirugikan bisa menggugat secara hukum, baik secara perdata maupun pidana,” kata Andre.

Saat ini, LBH HAMI masih terus membuka posko pengaduan untuk masyarakat yang mengalami masalah serupa. Mereka mengimbau agar warga yang merasa dirugikan segera melapor dan menyimpan bukti berupa sisa BBM, nota pengisian, serta rekam jejak perbaikan kendaraan.

Kasus dugaan Pertalite oplosan ini menjadi perhatian serius, mengingat dampaknya yang luas terhadap pengguna kendaraan di Kendari. Warga pun berharap agar aparat kepolisian dapat bertindak tegas dan mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya. (Ahmad Odhe/yat)

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Berlangganan Berita via Email
Berlangganan Berita via Email untuk Mendapatkan Semua Artikel Secara Gratis DIkirim ke Email Anda
Anda Dapat Berhenti Subscribe Kapanpun
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi