Take a fresh look at your lifestyle.
UHO Kendari

Muna, Masa Lampau Dan Masa Depan

996

Muna kini berusia 63 tahun. Secara de jure tertera pada Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Bagi manusia ini antiklimaks produktivitas. Ibnul Jauzi, membakukan fase itu adalah masa tua. Bahkan sejatinya Rasulullah S.A.W pernah bersabda “Masa penuaian umur umatku dari 60 hingga 70 tahun”. (HR. Muslim & Nasa-i).

Benar saja, bahwa pada umur ini seorang manusia mulai banyak pantangan makan. Tenaga berkurang, apalagi penghasilan. Aset-aset mulai dikerahkan untuk bertahan hidup.

Tapi, tidak dengan suatu teritori. 63 tahun adalah fase yang cukup, untuk mengguratkan pelajaran dalam torehan sejarah. Dari sana kita memproyeksikan masa depan, sebagaimana Ibnu Khaldun bernasehat.

Dalam sejarah, ilmu pengetahuan membakukan The Big People Theory, yakni sejarah selalu menceritakan tokoh besar. Inspirasi-pemikiran mereka ibarat pohon. Yang kemudian tumbuh menjalar-cabang dalam jejak-jejak peradaban. Dikembangkan dalam laku pembangunan.

Di usia Kabupaten Muna mencapai 63 tahun rasa optimis toh haruslah terus digaungkan. Notabene Muna adalah salah satu kabupaten tua di Provinsi Sulawesi Tenggara. Sejak didirikan Tahun 1959 dengan 4 distrik (baca : ghoera) dan dipimpin oleh Bupati pertama La Ode Abdoel Koedoes.

Beberapa kepemimpinan Bupati pernah mengantarkan Muna memasuki fase keemasan. Tanpa menafikan kepemimpinan Bupati lain, sependek pemahaman saya adalah Drs. Maola Daud. Tokoh tersebut boleh dikata adalah pemondasi pembangunan Kabupaten Muna. Ada banyak konsep futuristik yang mereka lakukan-melampaui jamannya. Begitu terukur dan efektif.

Sebagai bahan refleksi, generasi hari ini perlu mengenang nan wajib belajar dari bagaimana api sejarah terbentuknya Kabupaten Muna. Bukan membangga-banggakan abu sejarahnya saja. Bahwasanya ada cucuran keringat, tetesan darah bahkan gelimpangan nyawa yang jadi sumbunya.

Fase perjuangan fisik pun tercatat. Di masa pemerintahan Raja Muna La Ode Pandu menorehkan sejarah perjuangan pahlawan Muna. Tokoh yang terlibat adalah Idrus Effendi dkk, yang mana dalam gerakan Batalyon Sadar dan Barisan 20 terlibat pertempuran fisik dengan Belanda. Bergelimang nyawa gugur kala itu. Salah satunya yang wajib dikenang adalah La Salepa, yang kini namanya diabadikan menjadi nama Kecamatan.

Di fase selanjutnya, bercorak diplomasi. Status pembubaran anderafdeling Buton dan Laiwoi tidak lantas menaikkan status pemerintahan Muna menjadi Kewedanan. Hal itu kemudian diperjuangkan sengit oleh beberapa tokoh masyarakat saat itu, yakni La Ode Ado, La Ode Rasyid, Supu Yusuf dlln.

Banyak manufer politik yang dilakukan hingga akhirnya Kabupaten Muna resmi dibentuk berdasar Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Ditandai dengan empat distrik, yakni Tongkuno, Kabawo, Lawa dan Katobu, dengan Ibu Kota Kabupaten di Raha. Bupati pertama Kabupaten Muna diangkat pada tanggal 2 Maret 1960. Ia bernama La Ode Abdoel Koedes. Bersamaan dengan itu, ditambahkan pula tiga distrik baru, yakni Kulisusu, Wakorumba, dan Tiworo.

Sebagian generasi kekinian mungkin mengenal nama La Ode Abdoel Koedes sebagai nama sebuah jalan-pendakian di daerah Labolu, dalam Kota Raha. Tak banyak yang mengetahui bahwa di masa pemerintahannya yang sesingkat satu tahun terpantik rintisan jalan dan lorong-lorong di Kota Raha.

La Ode Muhram Naadu. (Istimewa)

 

Bagaimana dengan nama-nama lain di atas?, adakah kita mengenangnya dalam syahdunya perjuangan mereka demi tanah ini?

Iklan oleh Google

Atau adakah generasi hari ini terinspirasi dari visionernya La Ode Kaimoeddin, pekerja kerasnya Maola Daud, berintegritasnya La Ode Saafi Amane, gesitnya Ridwan Bae, teduhnya L.M Baharuddin?

Merefleksi 63 tahun adalah bukan persoalan seremonial belaka. Spirit dari itu harusnya mengalir dalam laku membangun tanah yang diberkati ini.

Bagaimana dengan Kabupaten Muna hari ini?
Dalam angka-angka statistik, harus diakui beberapa Kabupaten lebih muda mengungguli Muna. Seliweran potensi SDA & SDM dalam spasial 22 Kecamatan-154 Desa harus terus dimaksimalkan.

Agaknya mainstream dan parsial bila melihat keberhasilan dari pembangunan fisik belaka. Indikator tersebut bukan tunggal dan membutuhkan lebih jauh kaitannya dengan asas kemanfaatan. Notabene hal yang lebih penting adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Jika berbicara IPM, tentu mencakup tiga indikator, yakni umur panjang dan sehat, pengetahuan, dan kehidupan yang layak. Memang, tiga hal tersebut memiliki pengertian yang sangat luas.

Dari tahun ke tahun terjadi peningkatan. Meskipun dalam tataran Sulawesi Tenggara, kita berada di posisi ke tujuh (Data BPS 2021). Banyak hal yang harus dibenahi. Dan itu harus ditapaki dengan optimisme, dengan langkah nyata.

Pada galibnya, Muna termasuk daerah agraris. Dalam basis ilmu sosiologi, masyarakat agraris besar kemungkinan mengembangkan stratifikasi sosial menyerupai model kasta. Setidaknya ini menurut pendapat Gould (1960). Sebuah kebenaran ilmiah.

Dalam masyarakat tipe ini ada ciri esensial yang menonjol, yakni tingkat perubahan teknologi yang relatif lambat. Jika kita merefleksinya, koherenlah fakta yang ada di Muna selama ini. Kita lambat dalam memanfaatkan teknologi pertanian. Tapi ini kan teori bukan kutukan. Itu poinnya.

Goethe Sang Filsuf Jerman bahkan sudah mengingatkan bahwa teori adalah pilihan yang memaknai realitas. Realitas itulah yang terus hidup dan bergerak. Identitas manusia tak pernah final. Percakapan sosial akan menimpanya menjadi apa dan bagaimana. Inilah yang membutuhkan perubahan. Yah, dimulai dari manusia-manusianya.

Jangankan sumber daya alam, sumber daya manusia kita notabene melimpah. Kecerdasan naturalisnya masyhur ke mana-mana. Hanya saja aksesibilitasnya mungkin yang harus diperbaiki. Kesempatan berbakti kadang tersekat oleh preferensi politik saat Pilkada-Pemilu. Keterlibatan manusia dalam pembangunan harusnya tepat. Ilmuwan Muna terlalu banyak yang mengabdi untuk daerah lain.

Kebijakan-kebijakan politik pembangunan harus dimaksimalkan dalam mendorong perkembangan wilayah. Saling sandera kepentingan jangan jadi sandungan. Kondisi politik sangat mengintervensi kekuatan endogen dan eksogen wilayah, yang harusnya merupakan modal utama pembangunan.

Pada akhirnya memang kita harus bergerak bersama. Bertindak produktif. Mari bersama membangun Muna. Kembali ke pandehao wuto. Lalu bergerak secara dapoangka-angkatawu, dapomasi-masigho, dapopia-piara.

Untuk memulai perubahan, kita membutuhkan ide yang brilian. Namun ide saja tidak cukup, untuk tanah yang kita cintai ini. Tak akan ada gunanya tanpa satu gerakan yang nyata. Dan gerakan itu harus dimulai. Bukan nanti, tapi sekarang.

La Ode Muhram Naadu – LMN
Pemuda Muna

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Berlangganan Berita via Email
Berlangganan Berita via Email untuk Mendapatkan Semua Artikel Secara Gratis DIkirim ke Email Anda
Anda Dapat Berhenti Subscribe Kapanpun
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi