Institut Timurnesia Nilai Film Pesta Babi Kritik Sosial Tapi Provokatif
Institute Timurnesia menilai film dokumenter pesta babi yang mengkritisi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua merupakan kritik sosial namun provokatif.
“Bagi kami bagian dari kritik sosial. Itu kritik namun provokatif. Kalau kritiknya solutif tentu ada solusi kongkrit yang ditawarkan dalam film tersebut,” kata Direktur Institut Timurnesia, Laode Rahmat.
Menurut dia, jika film itu tidak menawarkan solusi kongkrit kategori film propaganda. Jika tidak ditelaah secara kritis akan menyesatkan bahkan bisa memicu konflik sosial.
Iklan oleh Google
“Membangun kesadaran masyarakat tentu tidak dengan cara-cara yang profokatif dan agitatif. Kalau menonton film tersebut sepertinya Papua akan kiamat padahal faktanya masyarakat di Papua khususnya Papua Selatan tidak seantagonis dalm film tersebut menyikapi Proyek strategi nasional (PSN),” imbuhnya.
Ia mengklaim, PSN di Papua Selatan bukan untuk menindas masyarakat tapi bagian dari program pemerintah pusat untuk membangun wilayah Papua Selatan.
“Proyeknya baru berjalan beberapa saat dan hasilnya belum maksimal namun secara jangka panjang manfaatnya akan dirasakan oleh rakyat Indonesia khususnya masyarakat Papua,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keinginan masyarakat Papua dengan Jawa tentu berbeda. Jadi ketika ada berbagai program pembangunan berjalan di Papua lantas ada pihak di luar warga Papua yang tidak senang, maka patut di dipertanyakan.
“Jangan sampai mereka tidak mau warga Papua sejahtera,” katanya.
Menurut dia, warga Papua Selatan dengan adanya proyek itu baik-baik saja bahkan berbagai fasilitas yang dibangun perusahaan mereka nikmati dan bebas digunakan masyarakat.
“Film dokumenter tersebut saya menilai tujuannya bukan hanya untuk mengkampanyekan hal negatif terkait proyek PSN namun seperti nya ada bandar lain yang menumpangi pembuatan film tersebut karena tidak hept proyek ini dikerjakan oleh pengusaha pribumi Haji isam (Johnlin Grup),” ujarnya.
“Sehingga berbagai narasi dikembangbiakan untuk menyudutkan corporasi tersebut. Sementara itu fakta lain yang juga jadi rujukan kehadiran Jhonlin di Bombana. Sekarang sudah dinikmati masyarakat sekitar. Jalan yang dibangun dinikmati masyarakat. Pelabuhan yang dibangun dinikmati masyarakat untuk bongkar muat dan jual hasil bumi,” pungkas Komisaris Bank Sultra tersebut. (Rls/)
