PT Almharig Sebut Curah Hujan Tinggi Picu Longsor di Kabaena Bombana
Bencana tanah longsor melanda wilayah Olondoro, Desa Rahadopi, Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Almharig, Yazid, menyatakan insiden tersebut murni dipicu oleh tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah tersebut belakangan ini.
Yazid menjelaskan bahwa intensitas hujan yang tinggi menyebabkan kondisi tanah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Almharig menjadi labil dan mudah bergerak.
“Tingginya curah hujan adalah penyebab longsor paling umum. Air meresap ke dalam tanah sehingga membuat tanah kehilangan kekuatannya. Apalagi jika kondisi ini terjadi di daerah kemiringan atau tebing, tanah mudah bergerak sebab air menambah beban pada tanah,” ujar Yazid dalam keterangannya, Sabtu, 11 April 2026.
Menurut catatan perusahaan, insiden serupa pernah terjadi pada Juni 2025 lalu di lokasi yang sama, yakni di sisi badan jalan dan bukan di area pit tambang. Saat itu, perusahaan juga sedang tidak melakukan aktivitas operasional.
Menanggapi kekhawatiran warga, Yazid menegaskan bahwa material longsor tidak menimbun mata air masyarakat. Ia menyebutkan jarak antara titik longsor dengan sumber mata air terpaut sekitar 500 meter.
Iklan oleh Google
“Jadi bukan mata air yang tertimbun material longsor, tetapi pipa salah satu penyedia jasa air bersih yang dikelola yayasan,” imbuhnya.
Pernyataan ini diperkuat oleh hasil peninjauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bombana pada 27 Maret 2026. Berdasarkan berita acara DLH, mata air Lare’ete terpantau tetap jernih tanpa endapan lumpur. Begitu pula dengan sumber air yang menyuplai Kelurahan Teomokole, Rahampuu, Sikeli, Baliara, Baliara Selatan, hingga Desa Langkema yang dinyatakan tetap aman dikonsumsi.
Meski PT Almharig telah mengerahkan alat berat untuk melakukan penanganan cepat, Yazid mengungkapkan adanya kejanggalan pada insiden longsor ketiga. Ia menyoroti posisi pipa yayasan yang tiba-tiba berada di atas tanah, padahal sebelumnya tertanam aman di bawah tanah dasar.
“Kami menduga ada pihak-pihak yang menyabotase peristiwa ini untuk menyudutkan PT Almharig,” kata pria kelahiran Pulau Kabaena tersebut.
Lebih lanjut, Yazid menyayangkan adanya aksi penghentian alat berat perusahaan oleh oknum tertentu saat proses evakuasi material longsor sedang berlangsung.
“Penanganan telah kami lakukan, meski pada akhirnya alat kami dihentikan oleh beberapa oknum dengan alasan tidak jelas. Namun, saat kunjungan Wakil Bupati Bombana, ada alat lain yang kami duga milik perusahaan lain bisa masuk ke lokasi. Meski begitu, alat berat kami tetap kami standby-kan untuk penanganan,” pungkasnya.
Hingga saat ini, pihak perusahaan mengklaim terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kabupaten guna memastikan akses jalan dan fasilitas air bersih kembali normal sepenuhnya. (Ahmad Odhe)
