Take a fresh look at your lifestyle.
UHO Kendari

Digelar di Kendari, Pemerintah bersama Akademisi Dorong Hilirisasi Peternakan

6

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian bersama akademisi peternakan mendorong penguatan hilirisasi sektor peternakan untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional di bidang peternakan.

Hal itu disampaikan Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc., IPU, saat menghadiri Seminar Inovasi dan Teknologi Peternakan (Intech) III yang digelar Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, pada Sabtu 1 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Musyawarah Nasional Forum Pimpinan Pendidikan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTPI) serta pengabdian kepada masyarakat kolaborasi nasional.

Nasrullah mengatakan hilirisasi menjadi bagian penting dalam mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mencapai swasembada pangan dari sektor hulu hingga hilir.

Menurutnya, produk peternakan tidak cukup hanya dijual dalam bentuk bahan baku. Pengolahan menjadi produk turunan dinilai mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi peternak dan pelaku usaha.

“Hilirisasi menjadi sebuah keharusan, karena di hilirisasi itulah mendapatkan nilai tambah dari sebuah produk,” kata Nasrullah.

Ia mencontohkan komoditas sapi yang selama ini membutuhkan biaya logistik besar ketika dikirim dalam kondisi hidup. Selain membutuhkan armada angkutan dalam jumlah banyak, pengiriman ternak hidup juga memiliki risiko kematian dan penyusutan bobot.
Kondisi tersebut dapat ditekan apabila sapi diolah terlebih dahulu menjadi daging potong, sosis, maupun produk olahan lainnya.

Staf Ahli Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Nasrullah, M.Sc., IPU. (Ist)

 

“Kalau dia sudah diolah menjadi daging potongan, atau sudah menjadi sosis, tentunya tidak volumetrik lagi,” ujarnya.

Hal serupa, kata dia, berlaku untuk komoditas susu dan ayam. Karena itu, pemerintah mendorong inovasi teknologi pengolahan agar tidak ada bagian dari produk peternakan yang terbuang.

“Sapi itu tidak ada yang terbuang. Ayam itu tidak ada yang terbuang. Semua jadi duit. Tapi harus dihilirisasi,” katanya.

Nasrullah mengatakan Kementerian Pertanian bersama pemerintah juga mulai menjalankan proyek percontohan hilirisasi untuk komoditas ayam dan telur serta sapi perah.
Menurutnya, konsep yang dikembangkan mengintegrasikan seluruh rantai produksi, mulai dari pembibitan, pabrik pakan, peternakan, hingga pengolahan dan rumah potong dalam satu kawasan.

“Tahun ini kita akan mulai lakukan untuk ayam dan telur di empat provinsi melalui BUMN pangan. Di situ ada pembibitannya, kemudian ada pabrik pakannya, ada pengolahannya, rumah potongnya, ada semua. Jadi satu set dalam satu kawasan,” jelasnya.

Untuk tahap awal, program tersebut akan dikembangkan di Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan dan Gorontalo, sementara pembibitan berada di Jawa Timur.

Nasrullah mengakui Sulawesi Tenggara belum masuk dalam wilayah tahap awal program hilirisasi ayam dan telur tersebut. Ia mengatakan pemerintah akan mengembangkan kawasan produksi secara bertahap, terutama di wilayah luar Jawa yang selama ini masih bergantung pada daerah lain untuk memperoleh bibit dan pakan.

Menurutnya, pengembangan kawasan akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah. Pemerintah tidak akan menyamaratakan skala produksi agar hasil peternakan dapat terserap pasar dan tidak mengalami kelebihan produksi.

Nasrullah juga menyebut masih terdapat pekerjaan rumah besar pemerintah dalam memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu nasional.

Produksi susu nasional saat ini, kata dia, baru memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan. Sementara produksi daging sapi diperkirakan baru memenuhi sekitar 40 sampai 50 persen kebutuhan nasional.

“Kita punya PR. Sehingga kita mengharapkan adanya investasi, baik dalam maupun dari luar, untuk membuat bisnis peternakan baik sapi daging, sapi potong, maupun susu sampai hilirnya, pengolahannya,” katanya.

Iklan oleh Google

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sulawesi Tenggara, Muhammad Taufik mengatakan kebutuhan daging dan telur untuk konsumsi lokal Sultra saat ini relatif masih terpenuhi. Namun, pemerintah daerah masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan populasi ternak besar, khususnya sapi.

“Yang menjadi PR kita sekarang ini, untuk ternak besar, kita masih butuh penambahan melalui pemuliaan atau breeding,” kata Taufik.

Ia berharap pihak swasta ikut berinvestasi dalam pengembangan pembibitan dan pemuliaan ternak guna meningkatkan populasi sapi di Sulawesi Tenggara. Selain breeding, pemerintah daerah juga terus mendorong penerapan teknologi inseminasi buatan (IB) kepada peternak.

Taufik mengatakan Sultra saat ini telah memiliki cukup banyak inseminator yang mampu melakukan IB. Bahkan, sapi bantuan Presiden dalam program hewan kurban sebelumnya disebut merupakan hasil pengembangan melalui inseminasi buatan di Sultra.

“Semua sapi bantuan itu murni kita hasilkan dari Sulawesi Tenggara sendiri,” ujarnya.

Menurut Taufik, inseminasi buatan tidak hanya berfungsi meningkatkan populasi ternak, tetapi juga dapat membantu mencegah penyebaran penyakit hewan menular strategis seperti penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pemprov Sultra, kata dia, telah memfasilitasi kebutuhan inseminasi buatan melalui penyediaan semen atau straw dan nitrogen cair.

“Teknologi yang kami dorong ke peternak adalah inseminasi buatan. Ini penting kalau kita meningkatkan populasi dengan inseminasi buatan,” katanya.

Dekan Fakultas Peternakan UHO Kendari, Prof. Dr. Ir. Ali Bain. (Ist)

 

Dekan Fakultas Peternakan UHO Kendari, Prof. Dr. Ir. Ali Bain, mengatakan Seminar Intech III menjadi momentum untuk mempertemukan akademisi dan pimpinan perguruan tinggi peternakan dari berbagai wilayah Indonesia.

Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Munas FPPTPI yang dihadiri pimpinan perguruan tinggi peternakan dari Aceh hingga Papua.

Selain seminar dan musyawarah nasional, Fakultas Peternakan UHO menggelar pengabdian masyarakat kolaboratif yang melibatkan mitra dari berbagai Fakultas Peternakan di Indonesia.

Kegiatan pengabdian berlangsung pada 30-31 Juli 2026 di sejumlah desa dan kelurahan di Kota Kendari serta Kabupaten Konawe Selatan.
Ali mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mentransfer pengetahuan dan hasil riset perguruan tinggi kepada masyarakat peternak.

“Ini sekaligus wujud dari upaya untuk hilirisasi hasil riset itu kepada masyarakat,” ujarnya.

Berbagai hasil penelitian dipaparkan, mulai dari pemuliaan ternak, pakan, penyediaan bibit, hingga model pengembangan peternakan terintegrasi. Model tersebut antara lain mengintegrasikan sektor peternakan dengan pertanian.

Ali berharap hasil riset dan inovasi yang dibagikan kepada masyarakat dapat mengubah paradigma pengembangan peternakan di Sulawesi Tenggara.

“Harapannya kita ada sharing knowledge, sharing riset, pengetahuan dari para narasumber yang pakar di bidang itu, baik unggas, kemudian ternak besar, dan juga pengembangan pakan ternak,” katanya.

Menurut Ali, penguatan teknologi, inovasi, dan hilirisasi hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

“Ini dalam rangka terciptanya ketahanan pangan nasional, sebagaimana program Bapak Presiden,” ujarnya. (Adv/Ahmad Odhe/yat)

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi