Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari resmi menjalin kerja sama strategis dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyusun kajian tipologi dan mekanisme pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah terpencil. Langkah ini diambil guna memperkuat implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program prioritas nasional.
Penandatanganan kontrak dan pembahasan rencana kerja tersebut dilangsungkan di Gedung Rektorat UHO, Kendari, pada Rabu 8 April 2026. Penunjukan ini menempatkan UHO sebagai satu dari lima perguruan tinggi terpilih di Indonesia yang dipercaya merumuskan rekomendasi kebijakan bagi BGN.
Plt Rektor UHO, Dr. Herman, S.H., LL.M., menyatakan bahwa kepercayaan ini merupakan amanah besar sekaligus misi kemanusiaan. Menurutnya, pemenuhan gizi di daerah terpencil memiliki tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan wilayah perkotaan.
“Melalui kajian ini, kami berharap dapat mengidentifikasi berbagai hambatan tersebut dan merumuskan solusi yang tepat. Sehingga, kebijakan pemerintah dalam pemerataan pemenuhan gizi dapat terlaksana secara efektif, berkelanjutan, dan sampai ke pelosok negeri,” ujar Herman.
Direktur Tata Kelola dan Pemenuhan Gizi BGN, Prof. Dr. Ir. Sitti Aida Adha Taridala, M.Si., mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan serta Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) yang akan menjadi acuan utama dalam pelaksanaan program MBG.
“Kajian tipologi SPPG di wilayah terpencil sangat penting agar pelaksanaan program dapat berjalan efektif dan tepat sasaran, berdasarkan data dan kondisi riil di lapangan,” ungkapnya.
Iklan oleh Google
Dia menjelaskan alasan di balik pemilihan UHO karena BGN menilai UHO memiliki keunggulan akademis dan pusat kajian yang fokus pada wilayah pedesaan, pesisir, dan kelautan.
“Nah, dari beberapa pihak yang sudah memiliki kerja sama dengan Badan Gizi Nasional, salah satunya adalah Universitas Haluoleo. Dimana UHO memiliki kapasitas memiliki pusat-pusat kajian yang terkait dengan dengan daerah-daerah terpencil. Jadi, ada kajian terkait dengan pedesaan, pesisir, kelautan, dan visi-misi dari Universitas Haluoleo,” katanya
Selain UHO, perguruan tinggi besar lainnya yang dilibatkan dalam berbagai kajian BGN antara lain Universitas Indonesia (UI), UGM, Universitas Diponegoro (Undip), dan IPB University.
Guru besar dari UHO ini juga membeberkan bawah program ini berangkat dari data memprihatinkan Kementerian Kesehatan yang menunjukkan sekitar 60 persen anak sekolah di Indonesia tidak sarapan. Kondisi ini kian rawan bagi kelompok penerima manfaat di daerah pelosok, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Kami ingin memastikan semua anak dan penerima manfaat mendapatkan hak mereka. Kasus stunting dan kebiasaan tidak sarapan harus diintervensi dengan data yang komplet dari lapangan,” tambah Sitti.
Terkait infrastruktur, Sitti mengungkapkan bahwa untuk wilayah Sulawesi Tenggara sendiri, telah direncanakan pembangunan SPPG untuk wilayah terpencil 139 titik. Saat ini, sejumlah unit telah memasuki tahap penyelesaian dan akan segera beroperasi dalam waktu dekat.
“Sudah ada yang selesai dibangun dan akan segera operasional, contohnya di Laonti. Saat ini kami hanya tinggal menunggu penempatan kepala SPPG dan personel terkait,” pungkasnya. (Ahmad Odhe/yat)
