Take a fresh look at your lifestyle.
UHO Kendari

Protes Jalan Rusak dan Debu Batubara, Warga Morosi Blokade Jalan Industri Nikel

90

Warga Morosi Kecamatan Kapoiala Kabupaten Konawe yang tergabung dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Kapoiala melakukan aksi demonstrasi dengan menutup akses jalan hauling milik PT OSS, Kamis, 4 Juli 2024.

Aksi demonstrasi ini dipicu karena keberadaan PLTU Captive milik PT VDNI dan OSS yang telah merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat sekitar perusahaan.

Diketahui PLTU Captive milik perusahaan ini menggunakan energi fosil batu bara sebagai bahan bakar utama dalam pengoperasiannya.

Madan selaku Kordinator Lapangan mengatakan, aksi unjuk rasa ini merupakan bentuk protes warga terhadap aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan.

Ia menyebut jalan hauling milik perusahaan melintasi beberapa jalan desa sehingga membuat jalan masyarakat rusak parah.

Kata dia, Akses jalan hauling ini melintasi lima desa, yakni, Desa Kapoiala Baru, Lalimbue Jaya, Lalonggombuni, dan Desa Muara Sampara itu Jika hujan jalanan berlumpur dan saat panas jalanan berdebu.

Iklan oleh Google

“Kami merasa harus melakukkan aksi penutupan jalan hauling ini karena kami menganggap perusahaan mesti melaksanakan hak dan kewajibannya,” tutur Madan selaku kordinator lapangan.

Ia menilai, kegiatan perusahaan sudah tidak ramah lingkungan lagi. Dimana, masyarakat di sekitar perusahaan terkena dampak dari berbagai aspek. Mulai dari pencemaran lingkungan yang mengubah bentang alam di Kabupaten Konawe hingga dampak ekonomi dan konflik sosial serta dampak kesehatan.

“Dengan ini kami sangat berharap agar pihak perusahaan segera membeton jalan desa yang sudah dirusaki akibat aktivitas mereka,” tegas Madan.

Berdasarkan hasil riset, Walhi Sultra menemukan bahwa mayoritas masyarakat Morosi yang bermata pencaharian sebagai petani tambak sangat dirugikan akibat beroperasinya PLTU Captive.

“Batu baru yang digunakan PLTU Captive milik perusahaan PT OSS dan PT VDNI menimbulkan dampak pada produktivitas tambak ikan dan udang milik warga, banyak tambak-tambak yang terpaksa berhenti beroperasi,” ungkap Didi dari Walhi Sultra.

“Selain itu, dampak dari debu batu bara juga menyerang kesehatan masyarakat, dari data Puskesmas Morosi tahun 2020 kami menemukan bahwa, tren penyakit tertinggi yang dirasakan masyarakat ada ISPA atau penyakit yang menyerang pernapasan,” tambah Didi.

Sementara itu, media ini masih berupaya untuk mengkonfirmasi pihak perusahaan terkait tuntutan yang dilakukan masa aksi. (Ahmad Odhe/yat)

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Berlangganan Berita via Email
Berlangganan Berita via Email untuk Mendapatkan Semua Artikel Secara Gratis DIkirim ke Email Anda
Anda Dapat Berhenti Subscribe Kapanpun
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi