Take a fresh look at your lifestyle.
UHO Kendari

Warga Kendari Mengadu Kasus Penipuan di Polda Sultra Malah Disuruh Cari Sendiri

124

Seorang warga Kendari, Krisna (31), mengalami kejadian tidak menyenangkan saat melaporkan kasus penipuan yang menimpanya.

Alih-alih mendapatkan bantuan dari pihak kepolisian, ia justru diminta mencari sendiri barangnya yang hilang.

Krisna, yang bekerja sebagai marketing handphone, ditipu oleh seorang customer misterius pada Jumat, 7 Februari 2025. Modus pelaku cukup rapi. Ia memesan handphone dengan sistem COD (Cash on Delivery) dan meminta barang tersebut dititipkan di resepsionis RSUD Kota Kendari.

Namun, saat Krisna diminta mengambil pembayaran di Swiss Bell Hotel, pelaku menghilang dan tidak merespons pesan.

“Di situ mi saya sadar, ternyata saya ditipu. Itu pelaku dia kendalikan lewat WhatsApp, dia suru Ojol yang ambil,” katanya.

Merasa dirugikan, Krisna segera melaporkan kejadian ini ke Polsek Poasia. Namun, setelah hampir dua jam menunggu, aduannya tidak diterima dan ia malah diarahkan ke Polda Sultra.diarahkan untuk melapor ke Polda Sultra.

“Dari sebelum Jumat saya disuruh menunggu. Ujung-ujungnya saya diarahkan ke Polda Sultra. Alasannya itu polisi di Polsek Poasia, tidak bisa dilacak di sana makanya saya ke Polda saja,” tutur Krisna.

Pria asal Konsel itu menuju Mapolda Sultra. Di sana, ia dicecer sejumlah pertanyaan oleh polisi di area penjagaan. Selanjutnya, ia arahkan ke lantai 2 untuk membuat aduan. Sesampainya di lantai 2, Krisna kembali diinterogasi oleh beberapa polisi.

Tetapi, aduannya ternyata tidak dibuatkan dalam lembaran aduan. Bahkan, Krisna diarahkan oleh polisi di sana untuk berusaha sendiri mencari handphonenya yang dibawa kabur.

“Ada juga kejadian begitu, di dapat handphone di lokasi pengiriman. Makanya aduan ku tidak dibuat, saya disuruh dulu cari sendiri di JNT dan JNE, dan sekeliling,” sesalnya.

Karna tidak mengerti aturan kepolisian, Krisna pun hanya bisa menurut. Ia berkeliling di Kota Kendari dan menyisir tempat-tempat pengiriman barang. Hasilnya nihil, pencarian Krisna tidak membuahkan hasil.

Selanjutnya, Krisna berusaha mencari cara agar laporannya bisa masuk di kepolisian. Untungnya, ia memiliki rekan yang mengenal anggota Buser 77 Satreskrim Polresta Kendari. Melalui rekannya itu, Krisna berkoordinasi langsung dengan anggota Buser 77.

Iklan oleh Google

“Ada anak Buser 77 yang temani saya tadi, saya dikasi kenal sama teman ku. Itu anak Buser 77 juga yang arahkan saya untuk melapor di Polresta Kendari, makanya diterima mi aduanku,” paparnya.

Krisna berharap, ada petunjuk yang bisa ditemukan oleh Buser 77 terkait kasus penipuan yang menimpa dirinya. Meskipun demikian, ia mengaku kecewa dengan pelayanan di Polsek Poasia dan Polda Sultra.

“Seharusnya mereka buatkan dulu aduan ku. Masa harus ada yang kita kenal baru mau diproses,” pungkasnya.

Sementara itu, Kapolsek Poasia AKP Jumiran membantah adanya penolakan tersebut. Ia menyebut pihaknya justru membantu pelapor dengan mengarahkan ke piket Cyber Polda Sultra.

“Benar kami langsung arahkan ke Cyber Polda Sultra, supaya cepat di telusuri nomor-nomor yang berkomunikasi dengan pelapor. Karena di Cyber Polda itu alatnya lengkap” terangnya dalam keterangan teetul.

Ia menyebut peralatan untuk melakukan pelacakan seperti yang di butuhkan oleh pelapor belum tersedia di Polsek Poasia, sehingga pihaknya mengarahkan pelapor agar segera ke piket Cyber Polda Sultra.
“Jadi kasus penipuan yang di laporkan itu butuh peralatan canggih untuk melacak nomor-nomor yang baru saja berkomunikasi dengan pelapor. Nah alatnya itu yang lengkap di Cyber Polda jadi kami arahkan kesana,” jelasnya

Di tempat yang berbeda Dirkrimus Polda Sultra Kombes Pol Bambang Wijanarko menyebut pihaknya tidak menolak aduan korban terkait penipuan itu.

Kata dia, kejadian tersebut pernah terjadi sebelumnya dan di dapati pelaku mengirim paket HP tersebut ke jasa pengiriman untuk di kirim di daerah lain.

Sehingga, ia bilang untuk mengetahui hal itu pihaknya memerintahkan kepada korban untuk mengeceknya ke jasa pengiriman.

“Untuk itu petugas menyampaikan kepada pelapor untuk mengecek terlebih dahulu ke JNT dan JNE agar dapat segera mengetahui apakah modus serupa terjadi seperti itu,” katanya kepada nawalamedia.id pada Minggu 9 Februari 2025.

“setelah itu petugas meminta pelapor untuk kembali ke polda untuk membuat pengaduan resmi” tambahnya.

Meski demikian, kasus ini tetap menjadi perhatian publik karena dianggap menunjukkan lemahnya pelayanan kepolisian dalam menangani laporan penipuan. Kini, Krisna hanya bisa berharap agar pelaku segera ditemukan dan barangnya kembali. (Ahmad Odhe/yat)

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Berlangganan Berita via Email
Berlangganan Berita via Email untuk Mendapatkan Semua Artikel Secara Gratis DIkirim ke Email Anda
Anda Dapat Berhenti Subscribe Kapanpun
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi