Komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi kembali diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Lantongau, Kecamatan Mawasangka Tengah, Kabupaten Buton Tengah, dengan mengusung tema “Peningkatan Nilai Tambah Produk Unggulan (Tenun) Melalui Optimalisasi Peran Pengrajin Tenun dalam Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat Lokal Desa Lantongau.”
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekonomi masyarakat melalui inovasi produk berbasis kearifan lokal.
Program pengabdian tersebut dipimpin oleh Alias, S.Pd., M.Hum. sebagai Ketua Tim, dengan anggota La Harjoprawiro, S.Pd., M.M. dan Hasni Hasan, S.Pd., M.Si., serta melibatkan dua mahasiswa Universitas Halu Oleo sebagai bentuk implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).
Tim bermitra dengan Kelompok Pengrajin Tenun Lantongau yang beranggotakan sepuluh orang dan diketuai oleh Marni.
Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat ini diharapkan mampu menghasilkan model pemberdayaan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Tenun Lantongau merupakan salah satu produk budaya yang memiliki nilai historis, sosial, sekaligus ekonomi bagi masyarakat Buton Tengah.
Selama ini, produk tenun yang dihasilkan masih didominasi oleh sarung tenun tradisional sehingga nilai tambah ekonominya relatif terbatas. Padahal, perkembangan industri kreatif dan perubahan preferensi konsumen membuka peluang besar bagi pengrajin untuk melakukan diversifikasi produk agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar modern tanpa menghilangkan identitas budaya yang melekat pada tenun tersebut.
Berangkat dari kondisi tersebut, kegiatan pengabdian ini difokuskan pada penguatan kapasitas kelompok pengrajin melalui pendekatan inovasi produk.
Tim pengabdian memberikan pendampingan mengenai strategi diversifikasi produk sehingga kain tenun tidak hanya dipasarkan dalam bentuk sarung, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif bernilai ekonomi tinggi, seperti kampurui, syal tenun, aksesori, serta produk fesyen dan kerajinan lainnya yang memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar regional maupun nasional.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas pangsa pasar tenun Lantongau.
Ketua Tim Pengabdian, Alias, S.Pd., M.Hum., menjelaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan inovasi ekonomi.
“Keberadaan tenun sebagai warisan budaya tidak cukup hanya dipertahankan sebagai simbol tradisi, tetapi juga perlu dikembangkan menjadi komoditas unggulan yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.
Iklan oleh Google
Ia menegaskan bahwa pengrajin perlu didorong untuk terus beradaptasi dengan perkembangan pasar melalui penciptaan produk-produk baru yang tetap mempertahankan nilai estetika dan filosofi tenun tradisional.
Dengan demikian, inovasi bukan dimaknai sebagai perubahan terhadap budaya, melainkan sebagai strategi untuk memperkuat daya saing produk lokal sehingga mampu bertahan di tengah persaingan industri kreatif yang semakin kompetitif.
Selain memberikan materi penguatan kapasitas, tim pengabdian juga menyerahkan berbagai peralatan pendukung produksi kepada kelompok pengrajin, antara lain mesin jahit, mesin obras, alat pemintal benang, serta bahan baku berupa benang tenun.
Bantuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi proses produksi sekaligus memperbaiki kualitas hasil tenun sehingga lebih memenuhi standar pasar.
Pendampingan tidak berhenti pada aspek teknis produksi. Tim juga memfasilitasi diskusi interaktif mengenai strategi pengembangan usaha, inovasi desain, peningkatan kualitas produk, hingga pentingnya memahami kebutuhan konsumen.
Para pengrajin diajak untuk melihat bahwa keberhasilan usaha tenun tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan kain berkualitas, tetapi juga oleh kemampuan membaca tren pasar, membangun identitas produk, serta mengembangkan strategi pemasaran yang efektif.
Ketua Kelompok Pengrajin Tenun Lantongau, Marni, menyampaikan apresiasi atas perhatian dan pendampingan yang diberikan oleh Universitas Halu Oleo.
Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi para pengrajin mengenai pentingnya inovasi dalam pengembangan usaha berbasis tenun.

Ia mengungkapkan bahwa selama ini para pengrajin lebih banyak memproduksi sarung tenun tradisional, sementara peluang pengembangan menjadi berbagai produk kreatif belum banyak dimanfaatkan.
“Melalui pendampingan ini, para anggota kelompok memperoleh pemahaman bahwa satu lembar kain tenun dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai jual yang lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya.
Marni juga berharap kerja sama antara perguruan tinggi dan kelompok pengrajin dapat terus berlanjut agar proses pembinaan berlangsung secara berkesinambungan.
Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan para pengrajin semakin termotivasi untuk terus berinovasi dalam mengembangkan produk tenun berbasis kearifan lokal. Dengan meningkatnya variasi produk dan nilai tambah yang dihasilkan, diharapkan kesejahteraan kelompok pengrajin maupun masyarakat Desa Lantongau dapat terus meningkat.
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Halu Oleo bersama mitra sasaran juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui program pengabdian kepada masyarakat atas dukungan pendanaan yang telah diberikan sehingga seluruh rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya Kelompok Pengrajin Tenun Lantongau. (Rilis/yat)
