Take a fresh look at your lifestyle.
UHO Kendari

Beberapa Bahasa Daerah di Sultra Terancam Punah

104

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar diskusi bertajuk “Antisipasi Ancaman Kemunduran dan Kepunahan Bahasa Daerah di Sultra pada Senin 17 Maret 2025.

Acara yang berlangsung di salah satu hotel di Kendari ini dihadiri oleh tokoh adat, masyarakat, akademisi, organisasi mahasiswa, serta perwakilan dari Kantor Bahasa Sultra.

Ketua DPD Demokrat Sultra, Endang S.A., menekankan pentingnya menjaga bahasa daerah sebagai identitas budaya.

“Bahasa itu sangat penting. Ini menunjukkan komitmen kita untuk mempertahankan eksistensi sebagai komunitas, budaya, maupun masyarakat. Kita punya tanggung jawab untuk masa depan anak cucu kita. Semua ini sudah mengalami kemunduran, dan jika kita tidak melakukan intervensi, bisa saja bahasa daerah kita punah,” ujar Endang.

Sementara itu, Kepala Kantor Bahasa Provinsi Sultra, Dewi Pridayanti, mengungkapkan bahwa dua dari sembilan bahasa daerah di Sultra berada dalam kondisi kritis, yaitu Bahasa Culanbacu yang digunakan di Konawe Utara dan Bahasa Lasalimu Kamaru di Buton.

“Dari sembilan bahasa daerah di Sultra, ada yang statusnya aman, rentan, mengalami kemunduran, hingga terancam punah. Yang paling kritis saat ini adalah Bahasa Culanbacu dan Lasalimu Kamaru,” kata Dewi.

Iklan oleh Google

Menurutnya, penelitian menunjukkan bahwa jumlah penutur kedua bahasa ini semakin sedikit, bahkan pewarisan kepada generasi muda hampir tidak terjadi.

Dewi menjelaskan bahwa ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kepunahan bahasa daerah, di antaranya, jumlah penutur yang semakin sedikit, minimnya pewarisan bahasa, serta kurangnya dukungan media.

Sebagai langkah antisipasi, Kantor Bahasa Sultra telah melakukan revitalisasi bahasa daerah, termasuk Bahasa Tolaki dan Bahasa Wolio. Program ini bertujuan meningkatkan jumlah penutur dan memperkuat penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini, sembilan bahasa daerah yang masih eksis di Sultra meliputi, Tolaki, Muna, Wolio, Culanbacu, Kulisusu, Wakatobi, Cia-Cia, Moronene, dan Lasalimu Kamaru.

Namun, beberapa di antaranya sudah mengalami penurunan jumlah penutur yang signifikan.

Diskusi ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menyusun strategi konkret untuk menjaga dan melestarikan bahasa daerah di Sultra. Sebab, bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan identitas suatu masyarakat. (Ahmad Odhe/yat)

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Berlangganan Berita via Email
Berlangganan Berita via Email untuk Mendapatkan Semua Artikel Secara Gratis DIkirim ke Email Anda
Anda Dapat Berhenti Subscribe Kapanpun
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi