Kepolisian Resor Kota (Polresta) Kendari meningkatkan status kasus hilangnya obat bius golongan narkotika di RSUD Bahteramas Sulawesi Tenggara (Sultra) dari penyelidikan ke penyidikan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polresta Kendari AKP Nirwan Fakaubun.
“Kasusnya sudah naik ke tahap penyidikan,” kata Nirwan kepada nawalamedia.id pada Jumat, 11 April 2025.
Nirwan menyebut kasus tersebut naik ke tahap penyidikan karena ditemukannya adanya tindak pidana saat dilakukan penyelidikan.
“Sudah jelas (hasil penyelidikan ditemukan ada tindak pidana),” katanya.
Dalam kasus tersebut, kata dia, 8 orang saksi sudah diperiksa untuk dimintai keterangannya.
“8 saksi itu, security, dan staf-staf nya di RS Bahteramas,” ungkapnya.
Sebelumnya, kasus ini telah dilaporkan oleh pihak rumah sakit. Hal ini dikarenakan sebanyak 1.460 ampul obat jenis fentanyl dengan merek fentanex dilaporkan hilang pada Kamis malam, 3 April 2025.
Dalam aksi pelaku terekam kamera pengawas atau CCTV milik rumah sakit tersebut.
Sementara itu, Kasubag Humas RSUD Bahteramas, Titi Rahmatia, mengungkapkan bahwa ini merupakan kejadian ketiga dalam rentang waktu yang sangat dekat.
Iklan oleh Google
“Pertama itu hanya percobaan, pelaku merusak pintu tapi tidak sempat mengambil obat. Kejadian kedua terjadi pada 26 Maret 2025, saat itu kami kehilangan 650 ampul fentanyl. Dan yang ketiga, pada 3 April, hilang lagi 1.460 ampul,” jelas Titi.
Dengan kejadian berulang ini, total kehilangan mencapai lebih dari 2.100 ampul obat narkotika dalam waktu kurang dari dua minggu.
Fentanyl sendiri merupakan obat bius dengan efek sangat kuat dan tergolong narkotika kelas berat. Penyalahgunaannya bisa berakibat fatal bahkan mematikan, sehingga kasus ini mendapat perhatian serius dari aparat kepolisian.
Kasus ini pun juga mendapatkan sorotan dari pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara.
Wakil Gubernur Sultra Ir Hugua mengatakan Pemprov Sultra sangat menyayangkan aksi pencurian yang terjadi di rumah sakit provinsi ini.
Terlebih, obat ini termasuk jenis yang tidak bisa di edarkan sembarangan dikarenakan dapat membahayakan jika di gunakan tak sesuai peruntukannya.
“Oleh karenanya pemerintah provinsi (Sultra) pasti serius. Pak gubernur (Andi Sumangerukka) pasti memberi atensi tinggi, terhadap hal ini,” katanya kepada awak media
Ia menyebut dirinya akan melakukan peninjauan dilapangan serta akan memanggil kepala rumah sakitnya serta kepala dinas kesehatan.
“Saya akan tanya kenapa lapisan-lapisan pengamanan bisa jebol dan kenapa hanya obat itu,” ujarnya
Menurutnya, obat-obatan yang hilang ini disinyalir ada keterlibatan orang dalam. Sebab jika pelaku dari luar tidak mungkin mengetahui penyimpanan obat-obatan tersebut.
“Mungkin ada terlibat orang dalam bisa aja tetapi yang menentukan itu polisi, pihak APH. Kami hanya menduga-duga aja,” katanya.
“Mudah-mudahan tidak ada keterlibatan orang dalam,” tambahnya. (Ahmad Odhe/yat)
