Warga Wawonii Protes Cengkeh Siap Panen Digusur Perusahaan Tambang
Kegiatan PT Gema Kreasi Perdana (GKP) yang beroperasi di Desa Mosolo, Kecamatan Wawonii Tenggara, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara kembali menyita perhatian.
Terbaru perusahaan tersebut diduga melakukan penerobosan lahan warga, yang berisikan tanaman cengkeh yang siap panen, dan mengakibatkan keributan antara warga dan karyawan PT GKP, Kamis 10 Agustus 2023.
Seorang warga bernama Taher mengatakan, usai mendengar adanya dugaan penerobosan lahan oleh pihak GKP, pihaknya kemudian melakukan pengecekan di lokasi.
“Setelah dikroscek di lokasi, ternyata betul, terjadi penerobosan,” ujarnya, pada Jumat 11 Agustus 2023.
Usai melakukan pengecekan di lokasi lanjut Taher, ia bersama masyarakat kemudian mendatangi tempat dimana lahan cengkeh warga yang diduga diterobos oleh PT GKP.
“Naiklah kurang lebih 150 orang, untuk mempertahankan lahan cengkehnya mereka,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan, saat kedua belah pihak akan melakukan diskusi mengenai dugaan penerobosan lahan cengkeh, terjadi provokasi yang dilakukan oleh pihak perusahaan.
“Saat mereka akan melakukan komunikasi, ternyata ada yang provokasi dari pihak mereka (GKP), mengancam, dan disitulah mulai keributan,” jelasnya.
Iklan oleh Google
Ia juga menuturkan, cengkeh warga yang dirusak oleh PT GKP berjumlah 40 pohon yang siap panen di awal September mendatang.
“Luasnya hampir setengah hektare. Dan sampai sekarang keadaan di sini belum kondusif, katanya ada premannya tambang mau serang beberapa warga,” pungkasnya.
Sementara itu Kapolsek Waworete Wawonii Timur, IPTU Jumardi menuturkan insiden perlawanan tersebut bermula saat masyarakat yang tidak mau dibayar lahannya oleh perusahaan. Masyarakat selalu melakukan penjagaaan agar lahannya tidak digusur.
Sehingga, saat penggusuran berlangsung, sekitar pukul 09.00 WITa, masyarakat Mosolo yang berjumlah sekitar 40 orang naik ke lahan yang diclearing untuk melakukan perlawanan. Sehingga menimbulkan korban dari operator excavator.
Pihak perusahaan mengklaim bahwa lahan yang digusur sudah dibayar oleh pihak perusahaan. Olehnya itu, sekitar pukul 14.30 WITa manager PT GKP menemui masyarakat.
“Dalam pertemuan tersebut, pihak perusahaan menyampaikan bahwa, lahan yang digusur kemarin sudah dibayar oleh perusahaan. Waktu itu, yang menjual adalah bernama La Are, sementara yang menerima uang adalah La Ponu,” katanya.
Akan tetapi, ternyata lahan yang digusur adalah lahan milik Lamiri. Pihak GKP mengatakan pada tahun 2018 lahan tersebut sudah dibayar sebesar Rp260 juta melalui La Are.
“Bahwa pada Bulan Ramadan pihak perusahaan dan La Aco pernah bertemu di rumah Laponu. La Aco menyampaikan bahwa silahkan ambil kembali uangnya dan lahannya Lamiri jangan diganggu,” pungkasnya.
Hingga saat ini, pihak perusahaan belum memberikan keterangan resmi dari pengrusakan tanaman warga hingga berujung keributan tersebut. (Ahmad Odhe/yat)
