Oleh :
Muhammad Bangkit Bimantara Untu, ST
‘Bukannya Membatalkan Bangunan Gedung Puluhan Lantai Yang Yang Kontraversi Justru Kembali Membangun Patung-Patung Yang Kurang Berfungsi’
Belum kelar dengan polemik program mercusuar Ali Mazi pembangunan gedung puluhan lantai yang menelan anggaran Rp.400 Milliar kembali masyarakat Sultra dibuat geleng kepala dengan pemerintah provinsi Sulawesi Tenggara yang hendak membangun patung Oputa Yii Koo setinggi 23 meter dengan anggaran Rp.17 Miliar.
Dilansir melalui media kendari info Kamis (8/9/2022) “Pemerintah Provinsi (Provinsi) Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan anggaran sebanyak Rp17 miliar untuk pembangunan Patung Oputa Yi Koo di bibir Pantai Kotamara, Kota Baubau. Dari desain yang dibuat, patung ini akan dibuat berwarna emas dan berdiri gagah dikelilingi oleh air laut. Patung ini akan menjadi ikon Sultra yang berdiri di Kepulauan Buton.”
Pemprov Sultra sangat antusias membangun infrastruktur megah tak bertuan, rata-rata kurang mempertimbangkan asas manfaat untuk masyarakat, jika Pemprov Sultra benar-benar membangun dengan orientasi kesejahteraan masyarakat seharusnya gedung puluhan lantai itu dibatalkan dan dialokasikan ke rehabilitasi jalan di Sulawesi Tenggara yang masih banyak butuh perbaikan. Instead membatalkan pembangunan gedung puluhan lantai yang kontraversi justru membangun patung yang kurang berfungsi.
Pemprov Sultra Kembali Membangun Infrastruktur Yang Kurang Bermanfaat
Dilansir melalui media online Zonasultra.Id, Kendari – “Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali mengucurkan anggaran sebesar Rp1,8 miliar untuk membangun patung pahlawan nasional asal Buton di bundaran kantor gubernur, Jalan Orinunggu, Kelurahan Mokoau, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Jumat (14/10/2022).”
Proyek pengerjaannya dilaksanakan oleh CV Duta Sarana Abadi dengan nomor kontrak: 602/0055/KNT-KONSTRUKSI/IX/2022 dengan nilai kontrak sebesar Rp1,8 miliar yang dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2022.
Iklan oleh Google
Lagi-lagi masyarakat dibuat geleng-geleng kepala dengan orientasi pembangunan infrastruktur Pemprov Sultra yang sangat tidak memerhatikan kebutuhan masyarakat. Kenapa bukannya jalan di depan kantor gubernur (jalan sangat akrab disapa jalan poros Nanga-nanga) itulah yang saat ini masyarakat Sultra butuhkan hari ini. Kantor gubernur yang masih layak digunakan malah direnovasi dengan anggaran yang tidak sedikit. Jalan tepat di depan kantor gubernur yang kurang lebih berjarak kurang dari 1 km yang seharusnya menjadi fokus untuk dilakukan perbaikan malah nyasar lebih jauh walaupun tidak dibutuhkan rakyat.
“yah, bundaran gubernur yang dibangunkan kembali patung dengan anggaran hampir Rp.2 Milliar, Sangat lebih jauh sedikit dari kantor gubernur namun juga jauh dari kebermanfaatannya untuk masyarakat dan tidak tepat sasaran.”
Kondisi Jalan Rusak Di Sultra menjadi PR buat Pemprov Sultra
Jalan wewenang Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang menghubungkan antara Kabupaten Kolaka Timur dan Konawe Selatan sangat memprihatinkan. Salah satunya adalah jalan poros Lambandia. Tanpa terkecuali Jembatan Lambandia, Desa Wonuambateo, Kecamatan Lambandia.
Berdasarkan informasi yang dihimpun melalui media Tribun-video.com Bangunan sebuah jembatan di Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara terjatuh tampak tak layak hingga membahayakan penyeberang. Salah satu korbannya adalah ibu dan seorang anaknya yang masih balita. Seorang balita jatuh ke bawah kolong jembatan saat menyebrangi bersama ibunya. Kejadian ini terjadi di Jembatan Lambandia, Desa Wonuambateo, Kecamatan Lambandia, Senin (20/6/2022).
Informasi yang beredar, kronologi awal peristiwa itu saat balita itu bersama ibunya melintasi jembatan tersebut menggunakan motor. Saat berada di tengah jembatan yang terbuat dari papan kayu itu, ibu balita tersebut kehilangan kendali dan terjatuh bersama balita tersebut. Jembatan yang juga tak ada pengaman pada bagian samping membuat balita itu terjatuh dari jembatan menuju pinggiran sungai. Beruntungnya balita yang menjadi korban ini masih dalam lindungan-Nya walaupun mempunyai efek trauma psikis akibat kejadian ini.
Jembatan ini merupakan jembatan kewenangan Pemprov Sultra. Namun begitu mirisnya kontruksi jembatan ini. Gelagar besi namun lantai kayu yang sedikit lagi hancur termakan oleh waktu dan beban hidup yang senantiasa ia topang dengan kondisi fisik yang sangat miris. Bagaimana tidak demikian Pemprov Sultra seakan menutup mata dengan ini.
“gimana pak dengan perasaan melihat jembatan wewenang bapak sudah memakan korban? anak bayi lagi, walaupun korban masih selamat, apa belum tergetir untuk permanenkan jembatan ini yah? Atau mungkin tunggu ada korban jiwa yah pak baru menyadarkan yah ?”
Semoga di akhir masa jabatan bapak Gubernur H. Ali Mazi S.H bisa lebih concern ke perbaikan jalan dan benar-benar membangun infrastruktur yang tepat sasaran dan benar-benar yang menjadi kebutuhan masyarakat. Dan harapan penulis juga.
“Semoga pak Gubernur kami, ayahanda kami untuk kali ini bisa mendengar keluhan masyarakat sultra dengan kondisi jalan sultra yang begitu butuh perhatian khusus dari bapak, jika memang kami tidak didengarkan juga barangkali yah bapak sudah tidak butuh lagi kami untuk kepentingan bapak yahh…” Tutupnya.
Seluruh opini yang terbit merupakan tanggung jawab penulis.
