Diduga Tak Sesuai Bestek, Pembangunan MCK Desa Mabodo Muna Disoal
Pembangunan gedung mandi cuci kakus (MCK) di Desa Mabodo, Kecamatan Kontunaga, Kabupaten Muna menuai kritikan oleh kalangan pemuda dan mahasiswa di desa setempat. Pasalnya, MCK yang dibangun oleh Pemdes Mabodo diduga tidak sesuai bestek.
Hal itu disampaikan Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa (Forkom) Mabodo, Irfan. Menurutnya, pembangunan MCK yang dianggarkan oleh dana desa (DD) tahun 2024 tersebut diduga tidak sesuai dengan gambar. Ia mengaku ada beberapa item pada gedung MCK diduga tidak dikerjakan.
“Dalam gambar kita lihat ada pemasangan slop dan ring balok itu dicor. Tapi setelah dibangun tidak ada dua item itu, ring bahkan balok diganti dengan kayu,” keluhnya kepada awak media.
Irfan menyampaikan, hilangnya dua item dalam pembangunan MCK itu dihawatirkan berdampak pada kekuatan konstruksi bangunan. Selain itu, mereka menduga ada upaya Pemdes mencari keuntungan dalam pembangunan MCK tersebut.
“Ada dugaan mencari keuntungan di situ. Karena jelas, setiap item dalam bangunan MCK itu ada anggarannya,” terangnya.
Sementara itu, salah seorang tukang yang mengerjakan pembangunan gedung MCK ini, La Pondi mengaku bahwa selain dua item tersebut, ada juga item lain yang tidak dikerjakan, seperti pembangunan rabat keliling.
Kata dia, dalam gambar pembangunan gedung MCK ada pembangunan rabat keliling namun mereka hanya diinstruksikan untuk bangun rabat depan dan belakang.
“Kalau dalam gambar ada rabat keliling. Tapi kita hanya diarahkan untuk bangun rabat depan dan belakang,” katanya.
La Pondi menyampaikan bahwa pembangunan MCK di Desa Mabodo tersebut sebanyak 19 unit dan menelan anggaran Rp299 juta lebih. Luas gedung MCK tersebut, 2×1,5 meter. Dari anggaran tersebut, ia mentaksir, total anggaran yang dihabiskan dalam satu gedung MCK kurang lebih Rp15 juta. Kemudian, upah tukang dalam satu gedung tersebut sebesar kurang lebih Rp3,5 juta.
“Anggaran 15 juta itu terlalu besar jika dibandingkan dengan gedung 2×1,5 meter. Ini juga yang menjadi keluhan masyarakat di sini. Artinya kalau gedung itu dikerjakan sesuai gambar masih banyak untung, apa lagi kalau dihilangkan beberapa item,” katanya.
Mereka juga menyampaikan bahwa masalah ini sudah pernah dilakukan pertemuan dengan pemerintah desa yang diinisiasi oleh BPD Desa Mabodo di Balai Desa Mabodo pada Jumat lalu. Pertemuan tersebut dihadiri oleh masyarakat Mabodo, pihak kepolisian dan pemerintah kecamatan.
Dalam pertemuan tersebut, kata La Pondi, kepala desa menyampaikan bahwa hilangnya dua item pasangan slop dan ring balok berdasarkan kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara.
Iklan oleh Google
Namun, setelah diperiksa berita acara, tidak ada yang menyebutkan bahwa dua item pada pembangunan gedung MCK itu dihilangkan.
“Saat itu juga pak desa mengakui, dan dia sempat minta maaf,” klaimnya.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Mabodo, Anas Boy mengaku bahwa hilangnya duan item pada pembangunan MCK tersebut masuk dalam kekeliruan Pemdes.
Namun, kata dia, tidak dipasangnya dua item itu juga tidak diambil sepihak tapi atas pertimbangan beberapa tukang.
Ia menyebut, beberapa tukang menyarankan pemasangan slop dan ring balok itu tidak berdampak pada bangunan karena beban bangunan tidak terlalu berat.
“Terkait slop dan ring balok memang itu kekeliruan kami dengan TPK karena di rapat itu tidak dibahas. Tapi pas sudah bubar mi para tukang dengan masyarakat, di luar ada satu dua orang para tukang yang mengatakan, dia bilang, pak desa dia mau tahan beban juga apa ini kalau luas gedung cuma 1,5×2 meter, bagusnya katanya kita tata di fondasi tiangnya. Kalau sudah naik besinya dijepit dengan batunya sudah tambah kuat sementara hanya kelas dua juga rangka atap,” katanya mengulangi pendapat tukang.
Anas Boy juga mengaku bahwa berdasarkan konsultasi dengan tenaga teknis, pekerjaan tersebut tidak menjadi masalah. Tenaga teknis menyampaikan bahwa anggaran pemasangan ring balok dan slop tersebut nantinya akan jadikan Silpa Desa.
“Nanti dihitung kembali berapa nominal uang yang kita kasi hilang di slop dan ring balok itu. Nanti di perubahan kita rapatkan kembali bersama BPD dan masyarakat. Kira-kira anggaran itu mau dialihkan dimana kalau ada sisa bgini,” jelasnya.
Anas berterimakasi kepada masyarakat dan pemuda yang terus mengawal dan mengritik pembangunan di Desa Mabodo. Namun kata dia, apa yang dilakukukan saat ini sesuai dengan kebutuhan masyarakat bukan untuk mencari keuntungan pribadi.
“Saya juga apresiasi pada adik-adik pemuda karena sudah mengawal kegiatan ini. Saya juga akan terus terbuka kalau dikritik. Nanti ke depan ini saya akan undang lagi, bahas soal ini supaya selesai dan tidak ada lagi unek-unek yang tersimpan,” katanya.
Terkait persoalan pembangunan rabat, Anas Boy mengaku, pembangunan rabat ada yang dikerjakan keliling dan hanya depan belakang.
“Sebenarnya saya sarankan dibangun rabat keliling, tapi tukang berbeda-beda. Mungkin dilihat dari sisi manfaat. Tapi nanti dilihat ke depan karna ini juga kan belum selesai semua. Dari 19 gedung baru 13 yang selesai,” pungkasnya. (Pialo/yat)
