Banner Nawala Media
Lewati ke konten
Kamis, 22 Oktober 2026 Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian

SAAT IPA KEHILANGAN MAKNA

Oleh: Ahmat Sukur Ato

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau biasa dikenal dengan ilmu sains seharusnya membantu peserta didik memahami dunia di sekitarnya. Melalui belajar IPA, siswa dapat memahami mengapa hujan turun, bagaimana tubuh bekerja, mengapa benda bergerak, dan bagaimana listrik dapat menyalakan lampu. Pembelajaran IPA semestinya menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan menjelaskan fenomena berdasarkan bukti.

Namun, ada persoalan yang patut kita renungkan, apakah siswa benar-benar memahami IPA, atau sekadar mengingat istilah, menghafal definisi, dan menggunakan rumus untuk memperoleh jawaban yang benar?

Persoalan ini bukan berarti semua pembelajaran IPA di sekolah hanya berorientasi pada hafalan. Banyak guru telah berupaya menghadirkan pembelajaran yang aktif dan kontekstual. Meski demikian, kecenderungan pembelajaran yang lebih menekankan penyelesaian soal daripada pemahaman konsep tetap perlu mendapat perhatian. Ketika keberhasilan belajar hanya diukur dari ketepatan jawaban, maka makna sains sesungguhnya berisiko terabaikan.

Akrab dengan Listrik, Asing dengan Konsepnya

Materi listrik menjadi salah satu contoh yang menarik. Listrik hadir dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari lampu di rumah, pengisian daya telepon genggam, hingga penggunaan peralatan elektronik. Akan tetapi, kedekatan siswa dengan teknologi tidak otomatis membuat mereka memahami konsep kelistrikan.

Dalam pembelajaran, siswa mungkin mampu menyebutkan rumus daya listrik P = V × I atau menghitung energi listrik menggunakan W = P × t. Namun, apakah mereka memahami arti tegangan, kuat arus, daya, dan energi? Dapatkah mereka menjelaskan mengapa dua peralatan dengan daya berbeda mengonsumsi energi yang berbeda ketika digunakan dalam durasi tertentu?

Di sinilah persoalannya. Siswa dapat saja berhasil menyelesaikan soal yang polanya sama dengan contoh yang dijelaskan oleh guru, tetapi mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan persoalan nyata yang membutuhkan penalaran. Rumus akhirnya diperlakukan sebagai alat untuk mencari angka, bukan sebagai representasi hubungan antarkonsep dalam suatu fenomena.

Penelitian Suryadi dkk (2020) menemukan berbagai jenis miskonsepsi tentang rangkaian listrik sederhana pada siswa SMP, siswa SMA, dan calon guru fisika. Temuan ini menunjukkan pentingnya pembelajaran yang tidak hanya melatih perhitungan, tetapi juga mengungkap dan memperbaiki pemahaman keliru siswa.

Praktik Harus Bermakna 

Pembelajaran berbasis inkuiri yang didukung kegiatan eksperimen dapat menjadi salah satu pilihan dalam membelajarkan IPA khususnya materi listrik. Pada materi listrik, siswa dapat diminta merangkai rangkaian sederhana, membandingkan rangkaian seri dan paralel, atau menyelidiki hubungan antara daya peralatan dan energi yang digunakan. Kegiatan praktik tentu tidak cukup jika hanya berakhir pada lampu yang menyala. Siswa perlu menjelaskan mengapa lampu dapat menyala, bagaimana perubahan susunan rangkaian memengaruhi gejala yang diamati, serta bukti apa yang mendukung kesimpulan mereka. Dengan demikian, praktik menjadi sarana membangun pemahaman, bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi lembar kerja.

Pembelajaran listrik juga dapat dikaitkan dengan kebiasaan penggunaan energi di rumah. Misalnya siswa dapat membandingkan penggunaan dua peralatan berdasarkan daya dan lama pemakaiannya, lalu menjelaskan faktor yang memengaruhi energi listrik yang digunakan. Mereka tidak hanya menghitung, tetapi juga menafsirkan hasil dan menghubungkannya dengan keputusan sehari-hari.

Guru pun perlu memperhatikan perbedaan kesiapan belajar siswa. Sebagian siswa mungkin membutuhkan bantuan berupa gambar rangkaian, petunjuk bertahap, atau contoh sederhana. Siswa yang lebih siap dapat diberi persoalan yang menuntut perbandingan data, evaluasi pilihan, dan penyusunan rekomendasi. Tujuannya bukan memberikan materi yang berbeda tanpa arah, melainkan menyediakan dukungan dan tantangan yang sesuai agar semua siswa dapat membangun pemahaman.

Umiliya dkk (2023) menemukan bahwa pembelajaran inkuiri berbantuan simulasi PhET pada materi listrik statis menghasilkan nilai rata-rata indikator pemahaman konsep yang lebih tinggi pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol. Hasil tersebut mendukung pemanfaatan simulasi sebagai sarana penyelidikan, terutama ketika fasilitas praktikum terbatas. Namun, teknologi tetap perlu disertai pertanyaan yang menuntun siswa mengamati, menjelaskan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti.

Mengukur Pemahaman bukan Ingatan

Perubahan pembelajaran perlu diikuti perubahan asesmen. Soal IPA sebaiknya tidak hanya menguji kemampuan mengingat rumus dan melakukan perhitungan. Siswa juga perlu diminta menafsirkan data, mengidentifikasi masalah, memberikan alasan ilmiah, mengevaluasi suatu pernyataan, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti.

Jawaban yang benar tetap penting, tetapi proses berpikir di balik jawaban juga perlu diperhatikan. Ketika siswa keliru menghitung, guru perlu mengetahui apakah kesalahannya berasal dari pemahaman konsep, pemilihan rumus, penggunaan satuan, atau operasi matematis. Informasi tersebut membantu guru menentukan tindak lanjut pembelajaran yang tepat.

Pada akhirnya, pembelajaran IPA tidak seharusnya berhenti pada kemampuan menghafal konsep dan menggunakan rumus. Siswa perlu diberi kesempatan untuk memahami fenomena, mengajukan pertanyaan, menyelidiki bukti, serta menjelaskan alasan di balik setiap jawaban. Materi listrik menjadi salahsatu contoh yang menunjukkan bahwa kemampuan menghitung belum tentu mencerminkan pemahaman yang utuh apabila siswa belum mampu menghubungkan konsep dengan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, tantangan guru bukan sekadar membantu siswa memperoleh nilai yang baik, melainkan menumbuhkan cara berpikir ilmiah yang dapat mereka gunakan dalam menghadapi persoalan nyata. Pembelajaran kontekstual, kegiatan inkuiri, dan asesmen yang menilai penalaran dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

IPA akan kehilangan makna ketika siswa hanya mengetahui jawabannya, tetapi tidak memahami alasannya. Sebaliknya, IPA menjadi bermakna ketika peserta didik dapat menghubungkan konsep-konsep ilmiah yang dipelajari di kelas dengan pengalaman nyata dan fenomena dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *