Take a fresh look at your lifestyle.
UHO Kendari

Alat Tangkap Ilegal Beroperasi, Ekosistem Ikan di Selat Tiworo Mubar Terancam

434

Alat tangkap ikan ilegal jenis “Perre-perre” mulai meresahkan masyarakat nelayan di wilayah pesisir. Pasalnya alat ini dianggap bisa mengancam ekosistem ikan di Selat Tiworo Kabupaten Muna Barat (Mubar).

Mustamin, nelayan asal Desa Katela, Kecamatan Tiworo Kepulauan, mengaku adanya alat tangkap tersebut membuat penghasilan nelayan tradisional yang menggunakan alat tangkap bagang mulai berkurang.

“Alat ini beroperasi awal tahun 2023 pak, sejak itu pula hasil tangkap nelayan di Desa Katela yang menggunakan alat tangkap bagang sangat berkurang. Dulunya kita bisa hasilkan tiga sampai 5 ember di perairan Desa Katela, sekarang dengan munculnya alat Perre-perre itu sampe-sampe kita tidak dapat ikan,” katanya.

Menurutnya, alat tangkap jenis Perre-perre ini sangat berbahaya jika dibiarkan menangkap di wilayah alat tangkap nelayan tradisional. Karena kata dia, alat tangkap ini bisa mengurangi ekosistem ikan akibat penangkapan yang berlebihan.

“Satu kali turun melaut, alat tangkap ini bisa menghasilkan ikan hingga ratusan kilo bahkan bisa mencapai satu ton lebih. Jadi kalau dibiarkan menangkap ikan di wilayah tangkap nelayan tradisional yang hancur kita, nelayan kecil ini,” tuturnya.

Mustamin juga mengaku, bahwa alat tangkap ini menggunakan GPS, sehingga mereka bisa mendeteksi kerumunan ikan di laut. Selain itu, alat ini di sediakan dengan ratusan lampu dengan daya yang sangat besar.

“Jadi alat tangkapnya sama dengan strom. Jika ikan masuk di situ pasti semua pingsan bahkan mati. Baik itu ikan kecil maupun yang besar,” katanya.

“Makanya, ketakutan masyarakat di situ adalah ikan di wilayah itu terancam punah dan butuh waktu lama untuk berkembang karena telur dan anak ikan bisa hilang. Jika ini terjadi maka berdampak pada kelangsungan hidup nelayan Desa Katela,” tambahnya.

Hal yang sama juga disampaikan nelayan lainnya bernama Edi. Ia mengaku jika alat ini dibiarkan beroperasi selama dua atau tiga bulan, maka bisa jadi masyarakat Desa Katela mati kelaparan.

Iklan oleh Google

“Bisa jadi kita kelaparan, karena kita tidak punya tanah untuk berkebun, satu-satunya mata pencaharian kita hanya nelayan. Jadi kalau ikan mulai langkah maka kelangsungan hidup nelayan Desa Katela terancam,” katanya.

Edi mengaku bahwa alat tangkap Perre-perre ini asalnya dari Sulawesi Selatan. Alat ini masuk di Mubar sejak awal tahun 2023 yang lalu.

“Ada oknum pengusaha yang kelola. Kalau tidak salah, alat tangkap jenis Perre-perre ini sebanyak enam unit. Harga per unit itu kisaran Rp100 juta,” ujarnya.

Edi juga mengaku, alat tangkap ini pernah beroperasi di wilayah Bulukumba, namun nelayan di sana juga menolak dan Dinas Kelautan dan Perikanan setempat mengeluarkan kebijakan tentang larangan alat tangkap ikan jenis Perre-perre berpotensi di wilayah Bulukumba. Larangan dituangkan dalam surat nomor 523/1377/VIII/DKP tertanggal 25 Agustus 2022.

“Setelah kita telusuri, ternyata alat tangkap ini pernah dilarang beroperasi di Bulukumba. Nelayan di sana tidak sepakat karena dapat mengancam ekosistem laut, penangkapan yang berlebihan (over fishing) dan ini sangat merugikan nelayan tradisional di Bulukumba. Makanya setelah dilarang di sana, mereka cari tempat lain yang belum dilarang,” jelasnya..

Edi juga mengaku pernah menyampaikan keluhan ini kepada Dinas Kelautan Dan Perikanan (DKP) Mubar. Pihak DKP pernah memanggil nelayan Desa Katela sebanyak dua kali untuk melakukan pertemuan, namun pemilik alat tangkap Perre-perre tidak pernah hadir.

“Sudah dua kali kalau tidak salah dipanggil untuk bahas soal itu tapi yang punya alat tangkap Perre-perre tidak pernah hadir. Ini kita dijanji lagi mau adakan pertemuan tapi sampai saat ini pertemuannya tidak pernah dilakukan,” ujarnya.

Atas persoalan itu, nelayan Desa Katela berharap kepada Pemda Mubar agar melihat masalah ini secara serius dan tegas, karena jika alat ini dibiarkan maka bukan hanya nelayan Desa Katela yang terancam kelaparan, pasti wilayah pesisir yang lain juga akan merasakan hal yang sama.

“Ini saja, kita sudah mulai jaga i, dan kemarin kita sempat amankan alat tangkapnya. Makanya kalau ini tidak diselesaikan bisa jadi ada masalah, karena ini menyangkut kelangsungan kehidupan nelayan,” harapnya. (Pialo/yat)

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Berlangganan Berita via Email
Berlangganan Berita via Email untuk Mendapatkan Semua Artikel Secara Gratis DIkirim ke Email Anda
Anda Dapat Berhenti Subscribe Kapanpun
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi