Penjelasan BWS Sulawesi IV Kendari terkait Longsornya Tebing Bendungan Ameroro
Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari memberikan klarifikasi terkait ambruknya atau longsornya tebing bendungan Ameroro di Kabupaten Konawe.
Bendungan tersebut masuk proyek strategis nasional (PSN) terletak di Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Diketahui sebagian dinding bendungan tersebut longsor berdasarkan video yang beredar di media sosial berdurasi 29 detik pada Rabu 13 September 2023.
Dalam keterangan tertulisnya, melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) BWS IV Kendari, Iping Mariandana menyebut, longsor terjadi pada Selasa, 12 September 2023 pada pukul 15.46 WITa.
“Bagian yang longsor tersebut adalah tebing sisi luar sebelah kiri dari spillway, dan itu jauh dari tubuh bendungan,” katanya dalam keterangan tertulisnya.
Ia mengatakan potensi longsor tersebut sudah teridentifikasi sebelumnya karena sudah terlihat retakan sehingga diputuskan segera ditangani dengan perkuatan dental concrete.
“Saat persiapan penggalian untuk perkuatan dengan dental concrete terjadi longsor tersebut yang seyogyanya memang akan digali dan dibuang,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa oknum yang mengambil gambar dan video di lokasi terlihat mendramatisir dengan cara mengambil gambar atau video dari belakang tumpukan tanah yang sengaja dibuat untuk akses dan dudukan alat berat seolah-olah tanah tersebut merupakan material longsoran.
Dari informasi yang dihimpun media ini pembangunan Bendungan Ameroro untuk memperkuat suplai air baku dan irigasi di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Iklan oleh Google
Diketahui sebagai daerah penyangga Kota Kendari sebagai Ibu Kota Sulawesi Tenggara, Kabupaten Konawe diperkirakan akan terus berkembang salah satunya melalui pengembangan industri nikel serta sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang membutuhkan air baku bersumber dari bendungan.
Sementara dilangsir dari Laman resmi kementerian PUPR pu.go.id Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan pembangunan bendungan bertujuan untuk peningkatan volume tampungan air sehingga suplai air irigasi ke lahan pertanian terus terjaga, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir.
“Pembangunan bendungan diikuti oleh pembangunan jaringan irigasinya. Dengan demikian bendungan yang dibangun dengan biaya besar dapat memberikan manfaat yang nyata di mana air akan mengalir sampai ke sawah-sawah milik petani,” kata Menteri Basuki dilangsir dari media pu.go.id pada Kamis 14 September 2023.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari Kementerian PUPR Agus Safari mengatakan, Bendungan Ameroro memiliki kapasitas tampung 98,81 juta m3 diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan air baku sebesar 0,51 m3/detik. Suplai tampungan air Bendungan Ameroro juga diproyeksikan untuk menyediakan air baku bagi daerah-daerah industri nikel yang berkembang di Konawe.
Bendungan Ameroro membendung Sungai Ameroro yang merupakan anak sungai dari Sungai Konaweha memiliki fungsi utama untuk mereduksi banjir di wilayah Konawe sebesar 443 m3/detik. Bendungan yang berada di Desa Tamesandi, Kabupaten Konawe ini merupakan bagian dari pengelolaan wilayah Sungai Lasolo Konaweha yang selanjutnya ditampung bendungan untuk mengurangi risiko banjir daerah hilir di Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Bendungan Ameroro juga berpotensi menambah layanan daerah irigasi seluas 3,363 hektare di Kabupaten Konawe. Diharapkan suplai air irigasi dari bendungan dapat membantu petani meningkatkan intensitas tanamnya jika dibandingkan dengan metode tadah hujan yang hanya satu kali dalam setahun,” kata Agus.
Diketahui Bendungan Ameroro mulai dikerjakan pada Desember 2020 dengan biaya APBN sebesar Rp1,6 triliun. Pembangunan Bendungan Ameroro dilaksanakan dalam 2 paket pekerjaan, yakni Paket I oleh kontraktor PT Wijaya Karya-PT Sumber Cahaya Agung-PT Basuki Rahmanta Putra (KSO) dan Paket II PT Hutama Karya- PT Adhi Karya (KSO).
Selain itu juga bendungan Ameroro masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2020 untuk menambah jumlah tampungan air di Sulawesi Tenggara dalam rangka mendukung program ketahanan pangan dan ketersediaan air. (Ahmad Odhe/yat)
