Cerita Nurfahmi, Anak Tukang Becak Bergelar Sarjana di UHO Kendari
Bakda subuh, Rabu 3 Mei 2023, La Fara (43) mulai menyiapkan becaknya untuk mengantar penumpang. Namun, sosok tumpangannya kali ini berbeda seperti hari-hari biasa.
Ia adalah Nurfahmi (22). Anak satu-satunya bersama Wa Rente (41). Nurfahmi merupakan satu dari 2.541 mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) yang akan bergelar sarjana muda di hari itu.
Ide naik becak dari rumah ke lokasi wisuda telah terbesit di pikiran Nurfahmi jauh-jauh hari. Ia ingin tetap tampil apa adanya di momen spesialnya. Termasuk ingin menunjukkan kepada dunia bahwa anak seorang tukang becak dengan pendapatan tak seberapa bisa menyandang gelar sarjana.
Tapi, takutnya ide itu ditolak sang ayah. Terlebih jarak antara kediamannya di Lorong Cendana Jalan KH Ahmad Dahlan Kelurahan Bonggoeya Kecamatan Wuawua ke Kampus Baru UHO Kendari terbilang jauh.
Namun idenya itu ternyata mendapatkan lampu hijau dari sang ayah. Bahkan ayahnya kukuh ingin mengantar putrinya menggunakan kendaraan yang telah menemaninya dua tahun terakhir.
Video Nurfahmi naik becak saat wisuda pun akhirnya viral di berbagai media sosial.
“Pada saat hari wisuda saya meminta bapak untuk mengantar saya menggunakan becak, karena saya ingin mengenalkan dan memperlihatkan kepada teman-teman saya, bahwa inilah bapak saya seorang tukan becak yang berhasil menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi negeri,” ungkap Nurfahmi saat berbincang dengan jurnalis Nawalamedia.id, La Ode Ahmad Rusidha.
Bagi Nurfahmi, kedua orang tuanya adalah segalanya. Sebab, tanpa mereka, ia bukan siapa-siapa dan tak bisa jadi apa-apa.

Bila orang lain memilih kendaraan bertenaga mesin saat pergi wisuda, ia memilih tetap tampil sederhana tanpa harus menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah anak tukang becak sekaligus tukang parkir.
Iklan oleh Google
Belajar dari pengalaman hidupnya hingga bisa bergelar sarjana, ia pun menyerukan semangat optimisme kepada mereka yang malang secara ekonomi. Sebab, setiap orang memiliki rejeki masing-masing termasuk punya hak untuk meraih cita-cita.
“Untuk teman-teman yang ekonomi keluarganya kurang, jangan berputus asa karena rezeki itu sudah Allah atur untuk hambanya, tetap ikhtiar optimis dan tawakal,” imbuhnya.
Nurfahmi bilang, sejak 2021, ayahnya bekerja sebagai tukang becak. Selain itu La Fara juga menjadi tukang parkir. Sehari-hari, penghasilan bapaknya tidak menentu. Kadang ia hanya bisa membawa pulang Rp25 ribu dalam sehari.
Program Bidik Misi
Nurfahmi merupakan alumnus jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Perempuan berdarah Muna itu berhasil menyelesaikan studinya dengan IPK 3,22 dalam masa studi 3 tahun 8 bulan.
“Saya tidak pandai di matematika, tetapi saya suka belajar matematika. Sehingga pada saat saya kuliah saya mengambil jurusan tersebut,” imbuhnya.
Nurfahmi mengaku, capaiannya saat ini juga berkat dukungan program pemerintah melalui beasiswa bidikmisi. Ia mengaku beasiswa tersebut sangat membantu dirinya dalam menempuh pendidikannya.
“Alhamdulillah saya penerimaan Bidikmisi di UHO. Sebenarnya sebelum mendaftar di UHO saya ada mendaftar di beberapa perguruan tinggi, tetapi di perguruan tinggi tersebut tidak menyediakan jurusan matematika dan beasiswa. Dengan beasiswa tersebut bisa meringankan sedikit beban orang tua saya menyekolahkan saya,” katanya.
Kini Nurfahmi telah mendapatkan gelar sarjana dan telah menghadapi dunia kerja. Namun Nurfahmi memilih membantu kedua orang tuanya walaupun disarankan untuk melanjutkan sekolahnya di S2.
“Sejak kecil saya bercita-cita jadi guru, jadi selepas lulus sarjana ini saya akan kerja honorer di sebuah sekolah di Kota Kendari. Namun sebenarnya kedua orang tua saya menyarankan untuk melanjutkan pendidikan saya, tetapi saya mau membantu mereka dulu sehingga saya memilih kerja,” jelasnya.
Perempuan kelahiran 2001 ini menuturkan, gelar yang telah didapatkannya akan membahagiakan kedua orang tuanya. Dan gelar tersebut akan dipersembahkan untuk orang tuanya. (Ahmad Odhe/yat)
