Universitas Halu Oleo (UHO) resmi menambah deretan pakar di jajaran akademiknya dengan mengukuhkan delapan Guru Besar baru dari empat fakultas berbeda pada Senin 9 Februari 2026.
Prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat di Kampus Hijau UHO, Kendari, ini dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UHO, Dr. Herman.
Herman menyatakan bahwa penambahan ini merupakan suntikan energi besar bagi kualitas akademik universitas. Saat ini, UHO tercatat telah memiliki total 172 guru besar yang tersebar di 14 fakultas.
“Saat ini UHO memiliki 172 guru besar yang tersebar di 14 fakultas. Ke depan, sebelum tahun 2030, kami menargetkan jumlah guru besar mencapai 200 hingga 250 orang,” ujar Dr Herman dalam sambutannya.
Herman menegaskan bahwa gelar profesor bukanlah sekadar pencapaian administratif atau akhir dari perjalanan karier seorang dosen. Sebaliknya, ia menekankan adanya tanggung jawab moral yang lebih besar dalam pengembangan riset dan pengabdian masyarakat.
Iklan oleh Google
“Guru besar dituntut untuk terus menjaga integritas, menghasilkan karya ilmiah berkualitas, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap para profesor baru ini mampu menjadi pemimpin akademik yang menginspirasi mahasiswa serta menjawab persoalan sosial melalui aksi nyata.
Delapan Guru Besar yang dikukuhkan berasal dari rumpun ilmu yang bervariasi, mulai dari ketahanan pangan hingga rekayasa teknologi.
Berikut adalah daftar profesor baru tersebut:
Prof. Akhmad Marhadi (Antropologi Maritim – FIB)
Prof. Fransiscus Suramas Rembon (Pengelolaan Tanah dan Air – Faperta)
Prof. Rachmawati Hasid (Agronomi – Faperta)
Prof. Wali Aya Rumbia (Kebijakan Pembangunan – FEB)
Prof. Lucas Kano Manggala (Rekayasa Konversi Energi – FT)
Prof. Ahmad Syarif Sukri (Rekayasa dan Manajemen Pertanian – Faperta)
Prof. Anas Nikoyan (Manajemen Pertanian Berkelanjutan – Faperta)
Prof. Sudarsono (Rekayasa Material dan Metalurgi – FT)
Dalam prosesi tersebut, masing-masing guru besar turut menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti isu-isu strategis seperti energi terbarukan, kedaulatan pangan, hingga kebijakan pembangunan daerah.
Penambahan ini diharapkan dapat mendongkrak akreditasi institusi serta memperkuat posisi UHO sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan di wilayah Timur Indonesia. (Ahmad Odhe/yat)
