Dekan FIB UHO Nilai Kehadiran Tambang Mengancam Situs Sejarah Sultra
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Akhmad Marhadi menilai hadirnya tambang di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengancam keberadaan situs-situs sejarah dan di Bumi Anoa.
Ia menjelaskan, di Sulawesi Tenggara saat ini menjadi sentrum nasional pertambangan. Menurut dia, keberadaan tambang-tambang ini di desa-desa bisa mengancam situs situs sejarah desa tersebut sebagai kekayaan budaya.
“Perspektif saya pertambangan itu mengancam budaya-budaya atau situs sejarah di Sultra. Tapi kita harapkan bisa menjaga situs situs sejarah peninggalan sejarah yang harus kita rawat,” jelasnya Akhmad Marhadi, Selasa 26 Juli 2022.
Lanjutnya, pihaknya akan melakukan riset di lapangan untuk melihat apa-apa yang menjadi data pemerintah pusat, Badan Arekeologi Nasional di daerah mana saja situs sejarah yang ada di Sulawesi Tenggara.
“Mungkin dengan itu bisa kita memberikan edukasi untuk melindungi situs-situs sejarah dan peninggalan arkeologi yang dimiliki Sulawesi Tenggara,” jelasnya.
Iklan oleh Google
Sebagai institusi keilmuan, Akhmad Marhadi mengatakan, apabila sudah melakukan riset, maka pihaknya akan merekomendasikan kepada pemerintah pusat dan pihak-pihak terkait bahwa situs ini harus dilindungi sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Karena nilai-nilai sejarah dan peninggalan arkeologi ini harus dirawat sebagai bagian kekayaan yang kita miliki dalam mendukung karakter dari bangsa ini,” jelasnya.
Ia menambahkan, Sulawesi Tenggara memiliki beberapa pulau dan beberapa suku serta beragam bahasa. Tentu setiap daerah memiliki peninggalan sejarah yang harus dijaga dan dirawat sebagai identitas daerah tersebut.
“Dengan menjaga peninggalan sejarah dan kebudayaan berarti kita menjaga karakter daerah kita dan karakter bangsa ini,” jelasnya.
Akhmad Marhadi menuturkan, belum lama ini pihaknya melaksanakan seminar nasional dengan mengangkat tema Desa Dalam Prespektif Sejarah dan Arkeologi, yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk menjaga dan merawat peninggalan sejarah.
“Seminar itu bisa memberikan kontribusi kepada generasi kita untuk merawat dan menjaga apa yang menjadi peninggalan sejarah di Sultra,” tutupnya. (re/yat)
