Take a fresh look at your lifestyle.

BRIN Dukung Penetapan Lanskap 4 Wilayah di Sultra sebagai Taman Nasional

36

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan urgensi penetapan Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga di Sulawesi Tenggara (Sultra) sebagai kawasan konservasi nasional dan warisan dunia. Langkah ini dinilai krusial di tengah ancaman krisis iklim dan laju deforestasi yang kian mengkhawatirkan.

Dalam Konferensi Wallacea Expeditions di Kendari pada Senin, 5 Januari 2026, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Hendra Gunawan, menyatakan usulan pembentukan kawasan konservasi seluas 6.000 kilometer persegi ini didasari oleh bukti ilmiah yang kuat untuk memitigasi bencana ekologis di Kawasan Wallacea.

“Pengusulan Taman Nasional dan Warisan Dunia merupakan langkah preventif berbasis bukti ilmiah, bukan keputusan politis,” ujar Hendra dilansir dari laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) www.brin.go.id, Rabu, 7 Januari 2026.

Hendra memaparkan data riset yang menunjukkan Kawasan Wallacea telah kehilangan sekitar 1,37 juta hektare hutan dalam satu dekade terakhir. Sultra menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan yang signifikan.

Kompleks Pegunungan Mekongga yang memiliki luas sekitar 258.519 hektare menjadi jantung dari usulan ini. Hendra menyebut kawasan tersebut berfungsi sebagai hulu bagi tiga Daerah Aliran Sungai (DAS) dan 30 sungai besar yang menopang sistem hidrologi regional di Sultra.

Selain fungsi hidrologi, kawasan ini merupakan habitat bagi spesies langka dan ikonik Sulawesi.

“Kawasan ini juga menyimpan bentang ekosistem langka, mulai dari hutan sub-montana hingga sub-alpin, yang menjadi habitat berbagai satwa endemik Sulawesi seperti anoa, babirusa, rangkong Sulawesi, hingga tarsius,” jelas Hendra.

Iklan oleh Google

Dirinya meyakini, hasil riset International Cooperative Biodiversity Group (ICBG) dan rangkaian Wallacea Scientific Expedition Series mengungkap potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Sejumlah spesies mamalia, flora, serangga, serta ratusan mikroorganisme diduga merupakan spesies baru yang belum pernah dideskripsikan secara ilmiah.

Dukungan terhadap pengusulan kawasan konservasi ini juga datang dari berbagai pemangku kepentingan. Wakil Rektor Universitas Halu Oleo, Prof. La Ode Santiaji Bande, menilai Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga memiliki nilai biodiversitas, geologi, dan arkeologi yang layak diakui sebagai warisan dunia.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk menyerahkan proses penetapan kawasan tersebut kepada Kementerian Kehutanan.

Dari sisi kebijakan nasional, Staf Khusus Kementerian Kehutanan, Silverius Oscar Unggul menegaskan bahwa pengusulan Lanskap Sombori-Matarombeo-Tangkelemboke-Mekongga sejalan dengan arah kebijakan pengelolaan hutan berbasis lanskap, termasuk pembentukan task force khusus dan penerapan moratorium aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan bernilai tinggi.

Direktur Naturevolution International, Evrard Wendenbaum, menjelaskan bahwa selama lebih dari satu dekade, kolaborasi ilmiah internasional telah dilakukan untuk menghasilkan basis data terpadu sebagai landasan pengusulan kawasan lindung berkelanjutan di Sulawesi Tenggara.

BRIN menilai momentum kebijakan saat ini sangat krusial untuk menghidupkan kembali komitmen daerah yang telah dideklarasikan sejak 2013. Penetapan Taman Nasional dan Warisan Dunia dipandang bukan sebagai penghambat pembangunan, melainkan sebagai instrumen perlindungan ekologis jangka panjang yang menjamin ketahanan air, keanekaragaman hayati, dan kesejahteraan masyarakat.

“Menunda penetapan berarti mempertaruhkan masa depan. Bertindak sekarang adalah investasi ekologis bagi generasi mendatang,” pungkas Hendra. (Ahmad Odhe/yat)

ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK NAWALAMEDIA.ID BISA DIAKSES VIA GOOGLE NEWS(GOOGLE BERITA) BERIKUT INI: LINK
Berlangganan Berita via Email
Berlangganan Berita via Email untuk Mendapatkan Semua Artikel Secara Gratis DIkirim ke Email Anda
Anda Dapat Berhenti Subscribe Kapanpun
Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan, ruas (*) wajib diisi