Banner Nawala Media
Lewati ke konten
Sabtu, 26 September 2026 Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian

Bakteri E-Coli Ditemukan dalam MBG yang Dikonsumsi Siswa SMA di Konawe Hingga Keracunan

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Konawe mengungkap hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan massal yang menimpa sejumlah siswa SMAN 20 Konawe. Hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) menunjukkan adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E-Coli) pada makanan yang dikonsumsi para siswa.

Namun, terdapat perbedaan signifikan antara sampel makanan yang diambil langsung dari dapur penyedia dengan sampel yang telah tiba di sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan Konawe, Yones, menjelaskan pemeriksaan dilakukan terhadap dua sampel makanan dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tongauna-Asao dan sampel makanan di lingkungan SMAN 20 Konawe pada Kamis, 24 September 2026.

“Hasilnya sampel makanan dari dapur SPPG Tongauna-Asao 0 bakteri atau steril. Sedangkan sampel makanan dari sekolah ditemukan 3.500 bakteri coliform, 150 E-Coli di kuah bakso, kemudian 3.000 bakteri coliform, 140 bakteri E-Coli dari pentol bakso,” kata Yones dalam keterangannya.

Yones menyebut cemaran bakteri tersebut diduga kuat menjadi pemicu munculnya reaksi medis pada tubuh siswa, seperti mual, pusing, gatal-gatal, hingga gejala alergi terutama bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh rentan.

Perbedaan sterilnya makanan di dapur dengan temuan bakteri di sekolah mengarahkan dugaan adanya masalah serius dalam rantai distribusi, pengemasan, maupun penyimpanan makanan.

Yones menduga kontaminasi terjadi pascamakanan keluar dari dapur pengolahan. Salah satu poin kritis yang disorot adalah tidak adanya label petunjuk serta batas waktu aman konsumsi (expired line) pada wadah pengiriman.

“Mungkin makanan ini terpapar saat diantar. Karena di sekolah kan ada ruangan tempat makanan disimpan, mungkin saja terpapar sinar matahari, kelembaban ruangan, atau sudah lewat waktu konsumsinya,” ujar Yones.

Dugaan masalah distribusi ini diperkuat oleh fakta bahwa gejala serupa tidak ditemukan pada kelompok penerima manfaat lainnya di wilayah yang sama.

“Siswa kita di SMP, SD, bahkan balita tidak mengalami gejala yang terjadi di SMA,” lanjutnya.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program pemenuhan gizi peserta didik di Kabupaten Konawe. Dinkes Konawe mendesak seluruh SPPG di wilayahnya untuk tidak mengabaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Pengawasan ketat diminta tidak hanya berfokus pada tahapan pengolahan di dapur, tetapi juga mencakup pengemasan, pengangkutan, hingga batas waktu simpan sebelum dikonsumsi siswa.

“Kita tidak inginkan hal seperti ini terulang. Oleh karena itu saya meminta agar pihak SPPG maupun BGN agar SOP benar-benar dilaksanakan. Apapun hasilnya, pihak SPPG harus bertanggung jawab dan ini menjadi evaluasi bagi pihak SPPG beserta seluruh jajaran di dalamnya,” tegas Yones.

Hingga saat ini, pihak Dinkes Konawe masih melakukan penelusuran lanjutan guna memastikan titik pasti terjadinya kontaminasi bakteri dalam rantai pengiriman makanan tersebut.

Diketahui, 58 pelajar dan 1 guru di sekolah tersebut dilaporkan mengalami keracunan usai mengonsumsi menu MBG. Namun hingga hari ini Jumat, 25 September, 1 orang siswa masih mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. (Ahmad Odhe/yat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *